BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan humanistik diawali oleh munculnya gerakan mahapeserta didik Gerakan yang disampaikan itu …
Teori belajar humanistik
Teori belajar humanistik
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan humanistik diawali oleh munculnya gerakan mahapeserta didik Gerakan yang disampaikan itu merupakan resppon atas ketidakpuasan atas kompetisi, tekanan, kehidupan yang selalu diawasi, dan ketidaksesuaian apa yang pelajari dengan apa yang mereka amati ketika belajar di sekolah. Gerakan itu dipelopori oleh Neill, John Holt, Jonathan Kozol, dan Paul Goodman.Praktik pendidikan yng dilawan oleh para tokoh gerakan itu adalah pendidikan di sekolah yang selalu diarahkan oleh pendidik (direct instruction). Pendidikan yang diarahkan oleh pendidik itu mengutamakan pada peningkatan pengetahuan dan ketrampilan peserta didik. Dalam pendidikan humanistik, fokus utamanya adalah hasil pendidikan bersifat afektif, belajar tentang cara-cara belajar (learning how to learn), dan meningkatkan kretivitas dan semua potensi peserta didik.
Abraham Maslow adalah tokoh gerakan psikologi humanistik di Amerika. Rogers menyampaikan tiga unsur pokok pada diri Inividu, yaitu (a) organisme, yakni orang secara penuh, (b) medan fenomena, yakni totalitas pengalaman, dan (c) diri sendiri, yakni bagian dari medan yang terdeferensiasi. Rogers menyatakan adanya diri sendiri yang ideal dan diri sendiri yang nyata dimana orang itu akan berada. Kensenjangan antara keduanya dapat menjadi stimulus belajar dan potensi perilaku yang memunculkan tekanan tidak sehat.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian teori humanistik?
2. Bagaimana akar perkembangan pendekatan humanistik?
3. Siapakah tokoh pendidikan humanistik?
4. Bagaimana pandangan humanistik dalam belajar?
5. Apa saja prinsip-prinsip pendekatan humanistik?
6. Apa implikasi dan aplikasi teori belajar humanistik?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian teori humanistik
2. Untuk mengetahui akar perkembangan pendekatan humanistik
3. Untuk mengetahui pendidikan humanistik
4. Untuk mengetahui pandangan humanistik dalam belajar
5. Untuk mengetahui prinsip-prinsip pendekatan humanistik
6. Untuk mengetahui implikasi dan aplikasi teori belajar humanistik
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Teori Humanistik
Teori pendidikan adalah suatu pandangan pendidikan yang diidealkan yang disajikan dalam bentuk sebuah sistem konsep dan dalil. Ada juga yang mengatakan teori pendidikan adalah serangkaian konsep, definisi, asumsi dan proposisi tentang cara merubah sikap dan tingkah laku seseorang dalam rangka mewujudkan manusia yang adil dan beradab.
Teori Humanistik lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia. Psikolog humanistik mencoba untuk melihat kehidupan manusia sebagaimana manusia melihat kehidupan mereka. Mereka berfokus pada kemampuan manusia untuk berfikir secara sadar dan rasional untuk dalam mengendalikan hasrat biologisnya, serta dalam meraih potensi maksimal mereka. Dalam pandangan humanistik, manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan perilaku mereka.
Menurut para tokoh aliran ini penyusunan dan pemilihan materi pelajaran harus sesuai dengan perasaan dan perhatian siswa. Tujuan utama pendidik adalah membantu siswa mengembangkan dirinya, yaitu membantu individu untuk mengenal dirinya sendiri sebagai manusia secara utuh dan membantu mengembangkan potensi dan keterampilan mereka.
Para ahli humanistik melihat adanya dua bagian pada proses belajar yaitu proses memperoleh informasi baru dan internalisasi informasi ini pada individu. Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Pengertian humanistik yang beragam membuat batasan-batasan aplikasinya dalam dunia pendidikan mengundang berbagai macam arti pula.
B. Akar Gerakan Humanistik
Teori belajar dan pendidikan humanistik diawali oleh munculnya gerakan mahapeserta didik Gerakan yang disampaikan itu merupakan resppon atas ketidakpuasan atas kompetisi, tekanan, kehidupan yang selalu diawasi, dan ketidaksesuaian apa yang pelajari dengan apa yang mereka amati ketika belajar di sekolah. Gerakan itu dipelopori oleh Neill, John Holt, Jonathan Kozol, dan Paul Goodman.
Dalam pendidikan humanistik, fokus utamanya adalah hasil pendidikan yang bersifat afektif, belajar tentang cara-cara belajar (learning how to learn), dan meningkatkan kreativitas dan semua potensi peserta didik. Praktik pendidikan humanistik berkembang di Amerika Serikat 60an dan mencapai puncaknya pada tahun 1990an dengan munculnya tokoh-tokoh psikologi seperti Abraham Maslow dan Carls Rogers.
Hasil belajar dalam pandangan humanistik adalah kemampuan peserta didik mengambil tanggung jawab dalam menentukan apa yang dipelajari dan menjadi individu yang mampu mengarahkan diri sendiri (self directing) dan mandiri (independent). Di samping itu pendekatan humanistik memandang pentingnya penekanan pendidikan di bidang kreativitas, minat terhadap seni, dan hasrat ingin tahu. Oleh karena itu pendekatan humanistik kurang menekankan pada kurikulum standar, perencanaan pembelajaran, ujian, sertifikasi pendidik, dan kewajiban hadir di sekolah.
Dalam praktik pembelajaran, pendekatan humanistik mengkombinasikan metode pembelajaran indivdual dan kelompok kecil. Namun pendekatan humanistik mempersyaratkkan perubahan status pendidik dari individu yang lebih mengatahui dan terampil segala sesuatu menjadi individu yang memiliki status kesetaraan dengan peserta didik. Pilihan materi pembelajaran yang hendak digunakan dalam proses pembelajaran merupakan hak peserta didik bukan pendidik. Pembelajaran merupakan wahana bagi peserta didik untuk melakukan aktualisasi diri, sehingga pendidik harus membangun kecenderungan tersebut dan mengorganisir kelas agar peserta didik melakukan kontak dengan peristiwa-peristiwa yang bermakna.
Pendekatan humanistik selalu memelihara kebebasan peserta didik untuk tumbuh dan melindungi peserta didik dari tekanan keluarga dan masyarakat. Demikian juga hasil belajar yanag berkaitan dengan perkembangan sosial emosional lebih penting dibandingkan dengan hasil pendidikan yang bersifat akademik.
Rogers dan Daymond (Gage dan Berliner, 1994) menyatakan bahwa prosedur terapeutik yang menghasilkan seseorang yang mampu memandang diri sendiri secara berbeda, yakni menerima diri sendiri, perasaannya sendiri, dan orang lain secara penuh. Pendidik yang berhasil menciptakan suasana pendidikan seperti itu akan mampu mendorong peserta didik untuk menampilkan perilaku yang memiliki karakteristik tersebut. Namun demikian hasil belajar dalam pendekatan humanisik itu sukar dispesifikasi dalam bentuk perilaku dan sukar diukur, sebab pendekatan humanistik kurang menekankan pengetahuan dan ketrampilan, sebaliknya lebih menekankan pada hasil belajar yang lebih bersifat personal.
C. Pandangan Abraham Maslow
Abraham Maslow adalah tokoh gerakan psikologi humanistik di Amerika. Walaupun ia memperoleh pendidikan di kalangan behavioristik, Maslow mampu mengembangkan pandangan yang komprehensif tentang perilaku manusia. Kontribusi yang diberikan Maslow adalah motivasi, aktualisasi diri, dan pengalaman puncak yang memiliki dampak terhadap kegiatan belajar.
Maslow menyampaikan teori motivasi manusia berdasarkan pada hierarkhi kebutuhan. Kebutuhan pada tingkat paling rendah adalah kebutuhan fisik (physiological needs), seperti rasa lapar dan haus, dan harus dipenuhi sebelum individu dapat memenuhi kebutuhan akan rasa aman (safety needs). Kebutuhan yang ketiga adalah kebutuhan menjadi milik dan dicintai (sense of belongingness and love), kemudian kebutuhan penghargaan (esteem needs), yakni merasa bermanfaat dan hidupnya berharga, dan akhirnya kebutuhan aktualisasi diri (self actualization needs). Kebutuhan aktualisasi diri itu termanifestasikan di dalam keinginan untuk memenuhi sendiri (self fulfillment), untuk menjadi diri sendiri sesuai dengan potensi yang dimiliki.
Individu yang beraktualisasi diri menampilkan karakteristik sebagai berikut:
• Berorientasi secara relistik.
• Menerima diri sendiri, orang lain, dan dunia alamiah sebagaimana adanya.
• Bersifat spontan dalam berpikir, beremosi, dan berperilaku.
• Terpusat pada masalah (problem centered) dan bukan terpusat pada diri sendiri (self centered).
• Memiliki kebutuhan privasi dan berupaya memperolehnya, jika memiliki kesempatan, serta memerlukan waktu berkonsentrasi unutk memperoleh sesuatu yang menarik bagi dirinya.
• Bersifat otonomi, independen, dan mampu mempertahankan kebenaran ketika menghadapi perlawanan.
• Kadang-kadang memiliki pengalaman mistik yang tidak berkaitan dengan pengalaman keagamaan
• Merasa sama denagn manusia secara keseluruhan berkenaan bukan saja dengan keluarga, melainkan juga kesejahteraan dunia secara keseluruhan.
• Memiliki hubungan dekat dan secara emosional denga orang-orang yang dicintai.
• Memiliki struktur karakter demokratis berkenaan dengan penilaian individu dan mampu bersahabat bukan didasarkan ras, status, agama.
• Memiliki etika yang berkembang terus.
• Memiliki selera humor tinggi.
• Memiliki selera kreativitas tinggi.
• Menolak keseragaman budaya.
Dalam pandangan Maslow, tujuan pendidikan adalah aktualisasi diri atau membantu individu menjadi yang terbaik sehingga mereka mampu menjadi yang terbaik. Pendidik hendaknya menjadikan kegiatan belajar itu berasal dari dalam diri individu, yakni belajar berada pada diri manusia pada umumnya dan kedua belajar menjadi manusia tertentu.
Maslow disebut sebagai bapak spiritual psikologi humanistik di Anerika, juga bertanggungjawab dalam menyampaikan pandangan manusia sebagai peserta didik aktualisasi diri (self actualizing learner). Pandangan yang sama juga disampaikan ole Carl Rogers yang menyatakan orang yang berfungsi secara penuh (fully functioning person).
D. Pandangan Carl Rogers
Dalam teori diri sendiri (self), Rogers menyampaikan tiga unsur pokok pada diri Inividu, yaitu (a) organisme, yakni orang secara penuh, (b) medan fenomena, yakni totalitas pengalaman, dan (c) diri sendiri, yakni bagian dari medan yang terdeferensiasi. Rogers menyatakan adanya diri sendiri yang ideal dan diri sendiri yang nyata dimana orang itu akan berada. Kensenjangan antara keduanya dapat menjadi stimulus belajar dan potensi perilaku yang memunculkan tekanan tidak sehat.
Rogers mendeskripsikan proses belajar yang terdiri atas dorongan ke arah aktualisasi diri secara penuh. Ada kontinum makna yang terdapat di dalam belajar yang berentangan dari hafalan yan tidak ada artinya dan tidak bermakna sampai pada belajar eksperiental, bermakna, dan signifikan. Rogers menggambarkan kualitas belajar eksperiental dalam mengembangkan individu yang berfungsi secara penuh, sebagai berikut:
a. Keterlibatan personal, yakni aspek-aspek kognitif dan afektif individu harus terlibat di dalam peristiwa belajar.
b. Prakarsa diri, yakni menemukan kebutuhan yang berasal dari dalam diri.
c. Pervasif, yakni belajar memiliki dampak terhadap perilaku, sikap, atau kepribadian diri.
d. Evaluasi diri, yakni individu dapat mengevaluasi diri jika pengalamannya memenuhi kebutuhannya.
e. Esensi adalah makna, yakni apabila terjadi belajar eksperiental, maknanya menjadi terpadu dengan pengalamannya secara total.
Rogers memperkenalkan pandangannya tentang penggunaan proses kelompok untuk memperlancar kematangan emosi dan psikologis. Kelompok, yakni kelompok pelatihan (Training Group) dan kelompok kepekaan telah mencapai popularitas pada akhir tahun 1960an. Rogrs menyatakan bahwa perubahan perilaku yang terjadi di dalam kelompok tidak harus berlangsung lama. Individu mungkin terlibat secara mendalam di dalam mengungkapkan dirinya sendiri dan kemudian meninggalkan berbagai masalah yang tidak terselesaikan. Tekanan martal munkin muncul dan komplikasi mungkin berkembang berkenaan dengan hubungan antar anggota kelompok. Di samping adanya kelemahan itu, proses kelompok merupakan kekuatan untuk memanusiakan kembali hubungan manusia dan membantu menghidupkan secara penuh di sini dan sekarang (here and now).
E. Prinsip-Prinsip Belajar
Ada beberapa asumsi yang mendasari pendekatan humanistik dalam pendidikan. Pertama, peserta didik mempelajari apa yang mereka butuhkan dan ingin diketahui. Kedua, belajar tentang cara-cara belajar adalah lebih penting dibandingkan dengan memperoleh pengetahuan aktual. Ketga, evaluasi yang dilakukan oleh peserta didik sendiri adalah sangat bermanfaat dari pekerjaannya. Keempat, perasaan adalah sama pentingnya dengan fakta, dan belajar belajar merasakan adalah sama pentingnya dengan belajar cara-cara berpikir. Kelima, belajar akan terjadi apabila peserta didik tidak merasakan adanya ancaman.
1. Swa Arah (Self Direction)
Prinsip swa arah menyatakan bahwa sekollah hendaknya memberikan kepada peserta didik untuk memutuskan bahan belajar yang ingin dipelajari. Bahan belajar yang ingin dipelajari peserta didik adalah yang memenuhi kebutuan, keinginan, hasrat ingin tahu, dan fantasinya. Prinsip ini lebih menekankan pada motivasi intrinsik, dorongan dari dari dalam untuk bereksplorasi, dan hasrat hasrat ingin tahu yang timbul dari dalam diri.
Tugas fasilitator di dalam mengarahkan peserta didik menjadi pembelajar swa arah adalah sebaai berikut :
a) Mendorong peserta didik untuk memenuhi kompetensi baru.
b) Membantu memperjelas aspirasinya guna meningkatkan kompetensinya.
c) Memabntu mendiagnosis kesenjangan antara aspirasi dengan kinerjanya sekarang.
d) Membantu mengidentifikasi masalah kehidupan yang mereka alami.
e) Melibatkan peserta didik dalam proses merumuskan tujuan belajar dengan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik yang telah didiagnosis.
F. Belajar tentang Cara-Cara Belajar (Learning How to Learn)
Peserta didik yang mengetahui cara-cara mempelajari bidang-bidang pengetahuan memiliki harapan dalam memadukan belajar baru dengan belajar yang menantang mengenal situasi yang terus berubah. Apabila peserta didik dihadapkan ada tantangan baru, mereka akan mudah menyesuaikan diri.
Tugas fasilitator dalam membantu peserta didik mengetahui cara-cara belajar adalah sebagai berikut:
a) Memotivasi peserta didik mempelajari tugas-tugas belajar yang telah dirancang bersama.
b) Membantu merancabg pengalaman belajr, memilih bahan balajar, dan metode belajar, dan melibatkan peserta didik dalam pembuatan keputusan bersama.
G. Evaluasi Diri (Self Evaluation)
Evaluasi diri merupakan prasyarat bagi perkembangan kemandirian peserta didik. Evaluasi yang dilakukan oleh sekolah atau pendidik yang diakhiri dengan kenaikan kelas dan kelulusan dipandang sebagai tindakan yang mengganggu aktivitas belajar peserta didik. Demikian pula instrumen evaluasi yang diwujudkan dalam bentuk tes dipandang tidak relevan dengan pendekatan humanistik. Terlebih tes yang disusun dalam bentuk tes obyaktif yang memiliki karakteristik jawaban yang benar adalah satu. Dalam pendekatan humanistik, peserta didik tidak dievaluasi dengan cara membandingkan dengan peserta lain atau dengan standar yang ditetapkan oleh pendidik, melainkan sebaliknya dievaluasi dengan menggunakan standar peserta didik itu sendiri, tanpa ada grading (seperti pemberian nilai A, B, dan sejenisnya). Untuk merealisasikan prinsip evaluasi diri itu pendidik dan peserta didik hendaknya bertemu secara reguler untuk melaksanakan perencanaan pembelajaran dan kontrak kegiatan belajar. Dalam pertemuan itu, mereka bersama-sama merumuskan kriteria untuk digunakan dalam evaluasi, dan peserta didik memiliki kesempatan untuk melaksanakan dan mengevaluasi diri.
Tugas fasilitator di dalam kegiatan evaluasi diri pada peserta didik adalah sebagai berikut:
a) Melibatkan peserta didik dalam mengembangkan kriteria kinerja, dan metode dalam mengukur kemajuan tujuan belajarnya.
b) Membantu mengembangkan dan menerapkan prosedur evaluasi kemajuan belajar.
H. Pentingnya Perasaan (Important of Feelings)
Pendekatan hummanstik tidak membedakan domain kognitif dan afektif dalam belajar. Dalam arti kedua domain itu merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Dari sudut pandang pendekatan humanisti, belajar merupakan kegiatan memperoleh informasi atau pengalaman baru, dan secara personal peserta didik menemukan makna akan informasi atau pengalaman baru tersebut. Secara spesifik, para pakar humanistik merekomendasikan bahwa pendidik dalam melaksanakan pembelajaran hendaknya menekankan nilai-nilai kerjasama saling menghormati dan kejujuran, baik pada waktu membuat contoh dan pada waktu mendiskusikan serta memperkuat nilai-nilai yang dipelajari oleh peserta didik.
Tugas fasilitator di dalam mengembangkan perasaan positif peserta didik terhadap pembelajaran adalah sebaga berikut:
1) Membantu peserta didik menggunakan pengalamannya sendiri sebagai sumber belajar dengan menggunakan pengalamannya sendiri sebagai sumber belajar dengan menggunakan teknik seperti diskusi, permanan peran, studi kasusu, dan sejenisnya.
2) Menyampaikan isi pembelajaran berdasarkan sumber-sumber belajar yang sesuai dengan tingkat pengalaman peserta didik.
3) Membantu menerapkan hasil belajar ke dalam dunia nyata (transfer of learning). Hal ini akan membuat belajar lebih bermakna dan terpadu.
I. Bebas dari Ancaman (Freedom of Threat)
Belajar akan lebih mudah, lebih bermakna dan lebih diperkuat apabila belajar itu terjadi dalam suasana bebas dari ancaman. Kegiatan belajr yang dipandang membebaskan peserta didik dari ancaman adalah pembelajaran yang diwarnai oleh suasana demokratis secara bertanggungjawab. Sebaliknya, kegiatan belajar yang diwarnai dengan berbagai ancaman, peserta didik akan merasa gagal sebelum melaksanakan kegiatan belajar, dan peserta didik yang merasa gagal itu pada akhirnya tidak akan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Tugas fasilitator dalam menciptakan iklim belajar yang bebas dari ancaman adalah sebagai berikut:
1) Menciptakan kondisi fisik yang menyenangkan, seperti tempat duduk, ventilasi, lampu, dan kondusif untuk terciptanya interaksi antar peserta didik.
2) Memandang bahwa setiap peserta didik merupakan pribadi yang bermanfaat, dan menghormati perasaan dan gagasan-gagasannya.
3) Membangun hubungan saling membantu antar peserta didik dengan mengembangkan kegiatan-kegiatan yang ersifat kooperatif an mencegah adanya persaingan dan saling memberikan penilaian.
J. Implikasi dan Aplikasi Teori Belajar Humanistik dalam Pembelajaran Siswa
1. Implikasi Teori Belajar Humanistik dalam Pembelajaran Siswa
a. Guru Sebagai Fasilitator
Psikologi humanistik memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator. Berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas fasilitator. Ini merupakan ikhtisar yang sangat singkat dari beberapa (petunjuk):
1) Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas
2) Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum.
3) Dia mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi.
4) Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka.
5) Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.
6) Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok
7) Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-sngsur dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan pendangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain.
8) Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa
9) Dia harus tetap waspada terhadap ungkapan-ungkapan yang menandakan adanya perasaan yang dalam dan kuat selama belajar
10) Di dalam berperan sebagai seorang fasilitator, pimpinan harus mencoba untuk menganali dan menerima keterbatasan-keterbatasannya sendiri.
2. Aplikasi Teori Belajar Humanistik Terhadap Pembelajaran Siswa
Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran.
Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri , mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.
Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah :
1. Merumuskan tujuan belajar yang jelas
2. Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas , jujur dan positif.
3. Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri
4. Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri
5. Siswa di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dariperilaku yang ditunjukkan.
6. Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya.
7. Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya
8. Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa
Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterpkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri.
Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku.
3. Ciri-ciri guru yang baik dan kurang baik menurut Humanistik
Guru yang baik menurut teori ini adalah : Guru yang memiliki rasa humor, adil, menarik, lebih demokratis, mampu berhubungan dengan siswa dengan mudah dan wajar.Ruangkelads lebih terbuka dan mampu menyesuaikan pada perubahan.
Sedangkan guru yang tidak efektif adalah guru yang memiliki rasa humor yang rendah ,mudah menjadi tidak sabar ,suka melukai perasaan siswaa dengan komentsr ysng menyakitkan,bertindak agak otoriter, dan kurang peka terhadap perubahan yang ada.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Teori Belajar Humanistik adalah suatu teori dalam pembelajaran yang mengedepankan bagaimana memanusiakan manusia serta peserta didik mampu mengembangkan potensi dirinya. Adapun tokoh dalam teori ini adalah Abraham Maslow, C. Roger dan Arthur Comb, dll.
Aliran Humanistik muncul sekitar tahun 1960-1972. Kemudian muncul bebrapa perubahan dan inovasi baru sampai dekade terakhir.
Kemudian aplikasi dalam teori ini, siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku. Serta guru hanya berperan sebagai fasilitator.
Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah :
1. Merumuskan tujuan belajar yang jelas.
2. Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas, jujur dan positif.
3. Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri.
4. Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri.
5. Siswa didorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dariperilaku yang ditunjukkan.
6. Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya.
7. Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya.
8. Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Rifai RC Achmad,dkk. 2012. Psikologi Pendidikan. Semarang: Pusat Pengembangan MKU/MKDK-LP3
http://diendafreemakalah.blogspot.com/2013/11/makalah-teori-humanistik.html
Teori belajar kognitif
A. PENDAHULUAN
Secara bahasa kognitif berasal dari bahasa latin ”Cogitare” artinya berfikir. Dalam Kamus BesarBahasa Indonesia, kognitif berarti segala sesuatu yang berhubungan atau melibatkan kognisi, atau berdasarkan pengetahuan faktual yang empiris. Dalam pekembangan selanjutnya, istilah kognitif ini menjadi populer sebagai salah satu wilayah psikologi, Dalam psikologi, kognitif mencakup semua bentuk pengenalan yang meliputi setiap perilaku mental manusia yang berhubungan dengan masalah pengertian, pemahaman, perhatian, menyangka,mempertimbangkan, pengolahan informasi,pemecahan masalah, kesengajaan, membayangkan,memperkirakan, berpikir, keyakinan dan sebaganya.
Teori kognitf pada awalnya dikemukakan oleh Dewwy, dilanjutkan oleh Jean Piaget, Kohlberg,Damon, Mosher, Perry dan lain-lain, yang membicarakan tentang perkembangan kognitif dalamkaitannya dengan belajar. Kemudian dilanjutkan oleh Jerome Bruner, David Asubel, Chr. Von EhrenfelsKoffka, Wertheimer dan sebagainya.
Menurut paham kognitif, tingkah laku seseorang tidak hanya dikontrol oleh reward (ganjaran) dan reinforcement (penguatan). Tingkahlaku seseorang senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan untuk mengenal atau memikirkan situasi di mana tingkahlaku itu terjadi. Dalam situasi belajar, seseorang terlibat langsung dalam situasi itu dan memperoleh pemahaman atau insight untuk pemecahan masalah. Paham kognitifis berpandangan bahwa, tingkahlaku seseorang sangat tergantung pada pemahaman atau insight terhadap hubungan-hubungan yang ada di dalam suatu situasi.
B. RUMUSAN MASALAH
a. Pengertian Teori Belajar Kognitif
b. Tahap-tahap Perkembangan Kognitif MenurutJean Piaget c. Implikasi Teori Kognitif Piagetdalam Pembelajaran
C. TUJUAN
a. Untuk mengetahui Pengertian Teori BelajarKognitif
b. Untuk mengetahui Tahap-tahap PerkembanganKognitif Menurut Jean Piaget
c. Untuk mengetahui Implikasi Teori KognitifPiaget dalam Pembelajaran
D. PEMBAHASAN
A. Pengertian Teori Belajar Kognitif
Jean Piaget mengemukakan bahwa proses belajar akan terjadi apabila ada aktivitas individuberinteraksi dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisiknya. Pertumbuhan dan perkembangan individu merupakan suatu proses sosial. Individu tidak berinteraksi dengan lingkungan fisiknya sebagai suatu individu terikat, tetapi sebagai bagian dari kelompok sosial. Akibatnya lingkungan sosialnya berada di antara individu dengan lingkungan fisiknya. Interaksi Individu dengan orang lain.
Teori Kognitif adalah suatu proses yangmelibatkan usaha aktifitas mental yang terjadi didalam diri manusia sebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungan lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan , nilai dan sikap yang bersifat relatif, dan berkelas.maka dengan demikian, telah proses pembelajaran danterjadi perubahan dan pemahaman .
B. Tahap tahap perkembangan kognitifmenurut Jean Piaget
a. Tahap sensorimotor ( usia 0_2 tahun
Individu memahami suatu atau tentang mengoordinasikan pengalaman pengalaman sensoris, ( seperti melihat danmendengar)dan tindakan tindakan motorikfisik.
b. tahap pra-opresional ( usia 2- 7 tahun).
Individu mulai melikusikan duniamelalui tingkah laku dan kata- kata. Tetapibelum mampu untuk melakukan operasi, yaitu melakukan tindakan mental yang diinternalisasikan atau melakukan tindakanmental terhadap apa yang dia lakukansebelumnya secara fisik.
c. Tahap operasional konkret ( usia 7_ 11)
Individu mulai berpikir secara logistentang kejadian kejadian yang bersifatkonkret. Individu sudah dapat membedakanbenda yang sama dalam kondisi yangberbeda titik.
d. Tahap operasional format
( 11 tahun ke atas) sementara salvin menjelaskan bahwa pada operasional formatterjadi pada usia sebelas samapai dewasaawal.
C. Implikasi teori kognitif Piaget dalampembelajaran
a. Bahan yang di pelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing
b. Berikan peluang agar anak belajar sesuaitahap perkembangannya.
c. Di dalam kelas, anak anak di hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dandiskusi dengan teman teman Anak-anakakan belajar lebih baik apabila dapatmenghadapi lingkungan dengan baik.
Individu dapat mengembangkan pengetahuan sendiri yang menjadi titik pusat dari teori belajarkognitif Piaget iyalah individu mampu mengalami kemajuan tingkat perkembangan kognitif atau pengetahuan ke tingkat yang lebih tinggi. Dalam berinteraksi dengan lingkungan individu mampu beradap tasi mengorganisasikan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan dalam struktur kognitif nya, pengetahuan, wawasan danpemahamannya semakin berkembang.
Individu wali sasi dalam proses pembelajaran, perlakuan terhadap individu harus di dasarkanperkembangan kognitif atau dengan kata lain, dalam pembelajaran harus di sesuaikan dengantingkat perkembangan individu.
E. KESIMPULAN
Teori kognitif adalah suatu proses atau usahayang melibatkan aktivitas mental yang terjadidalam diri manusia sebagai akibat dari prosesinteraksi aktif dengan lingkungannya untukmemperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku,keterampilan, nilai dan sikap yang bersifat relatifdan berbekas.
Tahap Perkembangan Kognitif Menurut JeanPiaget adalah Tahap sensorimotor (usia 0-2 tahun), Tahap pra-operasional (usia 2-7 tahun),Tahap operasional konkret (usia 7-11 tahun),Tahap operasional formal (11 tahun ke atas).
Implikasi Teori Kognitif Piaget dalam Pembelajaran ialah individu mampu mengalami kemajuan tingkat perkembangan kognitif ataupengetahuan ke tingkat yang lebih tinggi. Dalamproses pembelajaran harus disesuaikan dengantingkat perkembangan individu.
DAFTAR PUSTAKA
H.B. Suparlan. 2008. Pengembangan model
Pembelajaran IPS Terpadu dengan metode pemecahan masalah
Sutarto . M.pd. Teori Kognitif dan Implikasinya
Dalam pembelajaran. VOL 1 NO. 02.7
Amplikasi teori belajar dalam pembelajaran
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Fenomena pembelajaran dapat dijelaskan dan dimaknai oleh teori-teori belajar, oleh karena anda merupakan personel yang akan terlibat di dalam pembelajaran maka pada bagian ini anda diajak berdiskusi tentang berbagai hal yang berkaitan dengan teori-teori belajar dan implikasinya dalam suatu pembelajaran.
Suatu teori bukan hanya dapat membantu dalam memahami fenomena pembelajaran, tetapi juga dapat menjelaskan dan memaknai setiap fenomena pembelajaran. Teori yang anda kuasai akan menjadi kerangka pikir dalam mengambil putusan pendidikan atau pembelajaran, pisau pemilah dalam pemecahan masalah, dan bahkan sebagai bagian hidup yang integratif
Makalah ini dirancang dengan mengetengahkan lima teori belajar dan implikasinya dalam pembelajaran. Pembahasan teoritis dan contoh-contohnya disajikan pada Bab II. yang materinya mencakup teori belajar (1) behaviourisme, (2) humanisme, (3) kognitif. (4) konsep. (5) teoribelajar bermakna dan disajikan pula beberapa implikasi teori tersebut dalam suatu pembelajaran
1.2 Rumusan Masalah
A. Teori-Teori Belajar?
B. Implikasi Teori-Teori Belajar Dalam Pendidikan?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui Teori-Teori Belajar
2. Untuk mengetahui Implikasi Teori-Teori Belajar Dalam Pendidikan
3. Untuk mengetahui Mengapa Mempelajari Teori Pembelajaran Dalam Pendidikan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Teori – Teori Belajar
Berbagai teori belajar yang dapat diaplikasikan dalam proses pembelajaran di Sekolah Dasar akankita bahas bersama. Adapun paparan dalam proses pembelajaran berkaitan dengan teori belajar behavioristik. humanistik, teori kognitif, teori belajar bermakna, dan teori belajar konsep.
1.Teori Behavioristik
Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristic Atau dengan kata lain belajar adalah perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuanya untuk bertingkah laku dengan carayang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon.
Tokoh pelopor teori behavioristik antara lain J.B. Watson. Thorndike, dan B.F. Skinner. J.B Watson (1878-1958) mengemukakan bahwa perilaku manusia disebabkan oleh pembentukan faktor lingkungan. Bagi Watson Lingkungan adalah faktor dominan dan yang paling penting bagi tumbuh berkembang anak. Bahkan ia mengemukakan pendapat untuk bayi Albert yang dinilai negatif oleh masyarakat Amerika waktu itu Beri aku bayi, selanjutnya terserah dapat dibentuk mau jadi apa saja ” Begitulah pendapat Watson yang akhirnya membuat para orang tua takut menyekolahkan anaknya karena khawatir anak mereka dijadikan orang gila, pemabuk, dan sebagainya.
Ditengah keresahan masyarakat akibat teori Watson munculah pendapat Thorndike (1874-1974) yang mengemukakan bahwa belajar lebih bersifat meningkat bertahap ketimbang karena hadirnya pemahaman. Artinya, menurut teori Thorndike disini belajar melalui langkah-langkah kecil yang sistematis dan bertahap daripada sebuah lompatan yang besar. Thorndike pada tahun 1930-an terkenal akan hukum-hukum belajarnya yaitu:
a. Hukum kesiapan
b. Hukum latihan
c. Hukum akibat
d. Hukum berganda
e. Sikap
f. Elemen-elemen berpotensi
g. Respons dengan analogi, dan
h. Pergeseran asosiatif
pengulangan suatu perilaku pada praktiknya terkadang tidak akurat. Dalam revisi hukum akibat, Thorndike mengemukakan bahwa reinforcement akan menguatkan suatu hubungan sedangkan hukuman tidak berpengaruh pada kekuatan hubungan. Sebagai contoh, murid yang diberi hukuman karena salah mengerjakan tugas belum tentu membuatnya mengulangi tugas pelajaran tersebut. Sebaliknya peserta didik yang betul mengerjakan tugas diberi reinforcement berupa pujian sehingga ia semakin sungguh-sungguh dalam belajarnya.
Adapun cara belajar menurut teori ini adalah dengan mengamati perkembangan peserta didik. Perilaku terbentuk dengan adanya ikatan asosiatif antara stimulus dan respon. Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang menghindari hal-hal yang menyakitkan dan berprilaku sesuai dengan pola stimulus respon yang terjadi.
Belajar dimodifikasi oleh lingkungan. Dalam prosesnya mengandung tiga pokok yakni stimulus, respon, dan akibat. Stimulus datang dari lingkungan yang dapat membangkitkan tanggapan individu.Respon menimbulkan perilaku dari stimulus yang diberikan sedangkan akibat terjadi setelah individu memberi repson postif ataupun negatif.
Reinforcement (penguatan) menjadi prinsip utama dalam memperkuat lekatnya hasil belajar pada individu (Agus Taufik, 2007:6.5). Suatu pemahaman yang tepat memberikan kepuasan pada diri individu tetapi mereka cenderung menghindari sesuatu yang tidak memberikan kepuasan. Pemberian penguatan juga harus mewaspadai tricky matter, yakni proses penguatan yang keliru, tidak sesuai dengan tujuan utamanya. Misalnya, seorang ibu meminta anaknya untuk menyapu rumah dengan iming-iming akandiberikan uang dengan tujuan anaknya mempunyai kebiasaan menyapu lantai hingga bersih. Masalahnya, apa kita yakin bahwa anak itu menyapu kembali rumah di lain waktu dengan kesadaran dirinya sendiri? Mari kita teruskan ke teori selanjutnya.
2. Teori Humanisme
Tokoh pelopor teori belajar Humanisme antara lainAbraham Maslow dan Carl Rogers. Maslow meyakini bahwa belajar merupakan kebutuhan akanperkembangan motivasi. Dalam mencapai sesuatu manusia tidak akan pernah puas. rasa puas hanya terjadi sesaat saja sehingga manusia mencari peluang lain untuk menutupi kebutuhannya. Menurut Maslow, puncak kebutuhan yang sekaligus sebagai ukuran keberhasilan individu ialah berhasil dalam mengaktualisasikan diri dalam dunianya
Sementara Carl Rogers seorang ahli bimbingan konseling dengan teori client centered-nya berpendapat bahwa manusia adalah makhluk yang rasional. sosialis, ingin maju dan realistis sehingga manusia memiliki potensi untuk tumbuh dengan aktual serta memiliki martabat yang tinggi. Rogersmenempatkan manusia secara manusiawi dalam martabat kemanusiannya.
Bagi Rogers, guru merupakan fasilitator yang memungkinkan peserta didik paham akan sesuatu hal. Selain itu, dalam membimbing perlu diberinya kebebasan. Prinsip learning to be free adalah ide Rogers untuk mengkonsepsikan pembelajaran berbasis becoming a person, freedom to be, dan courage to be. Menurutnya, pembelajaran berbasis learning to be free mampu membuat peserta didik bersikap lebih otonom, lebih spontan, dan lebih meyakini dirinya sendiri. Senada dengan pengalaman Rogers ini, Djawad Dahlan (1985:41) sampai kepada suatu ungkapan yang menyatakan bahwa learning to be free merupakan perkembangan yang berarti untuk menjadi manusia yang “menjadi” becoming human
Adapun cara belajar menurut teori ini adalah dengan mengembangkan aktualisasi diri untuk mencapai puncak perkembangan individu. Apabila seseorang mampu mengembangkan potensinya serta merasa dirinya utuh, bermakna dan berfungsi (fully functioning person) maka orang itu bukan hanya akan berguna bagi dirinya sendiri tapi juga berguna bagi lingkungan sekitarnya. Teori ini berpendapat bahwa motivasi belajar harus datang dari dalam diri individu. intelektual dan emosional sama sekali tidak ada pengaruhnya dalam proses pembelajaran.
Carl Rogers mengemukakan prinsip-prinsip belajar sebagai berikut ini.
a. Manusia mempunyai dorongan alamiah untuk belajar; dorongan ingin tahu, melakukan eksplorasi dan mengasimilasikan pengalaman baru.
b. Belajar akan bermakna apabila materi yang dipelajari relevan dengan kebutuhan anak.
c. Belajar harus diperkuat dengan jelas mengurangi ancaman eksternal. seperti hukuman, penilaian, sikap merendahkan murid, mencemoohkan dan sebagainya.
d. Belajar atas inisiatif sendiri akan melibatkan keseluruhan pribadi, baik faktor internal maupun personal.
e. Sikap mandiri, kreativitas, dan percaya diri diperkuat dengan penilaian atas diri sendiri.
Menurut teori ini salah satu karakteristik yang harus ada pada diri pendidik adalah memiliki kemampuan memotivasi belajar peserta didiknya.Selain itu guru harus memiliki sikap empati (emphatic), terbuka (open mindedness), keaslian (genuineness), kekonkretan (concreteness), dan kehangatan (warmth)
Sikap empati (emphatic) merujuk kepada sikap guru yang mau memposisikan dirinya pada kerangka berfikir peserta didik sehingga guru dapat merasakan apa yang peserta didik rasakan dan alami. Keterbukaan (open mindedness) merujuk pada kemampuan guru untuk membuka diri, siap dikritik. siap diberi masukan, siap dinilai, dan diberi pujian. Keaslian (genuineness) merujuk kepada penampilan apa adanya dan tidak dibuat-buat. Kekonkretan (concreteness) merujuk pada kejelasan dalam menyatakan sesuatu, memberikan tanggung jawab sesuai dengan kemampuan peserta didik dan realistis. Kehangatan (warmth) merujuk pada jalinan komunikasi yang secara psikologis terasa nyaman dan aman bagi peserta didik disertai ketulusan dalam memberikan pelayanan pendidikan
3. Teori Belajar Kognitif
Tokoh pelopor teori belajar kognitif yang terkenal antara lain Max Wertheimer, Wolfgang Kohler, Kurt Koffka, Kurt Lewin, dan Jean Piaget. Max Wertheimer (1880-1943), Wolfgang Kohler (1887-1967). Kurt Koffka (1886 1941) merupakan pionir teori gestalt (Agus Taufik, 2007: 6.8). Teori ini menekankan bahwa keseluruhan lebih berarti daripada bagian-bagian. Artinya proses belajar dalam teori ini harus dimulai dari keseluruhan dahulu, baru menganalisa bagian-bagian atau unsur-unsurnya. Misalnya, permulaan membaca untuk anak SD yang baik adalah mengajarinya keseluruhan baru dianalisis/dipisahkan per kata, per suku kata, dan per huruf. Contoh.
Ini-ibu-Budi
I-ini i-bu Bu-di
I-n-i i-b-u B-u-d-i
Kurt Lewin (1890-1947) merupakan pengembang teori motivasi di sekitar teori medan (Agus Taufik, 2007: 6.8). Teori ini mengemukakan bahwa semakin dekat peserta didik dengan medanbelajarnya, motivasi belajarnya cenderung lebih kuat dibandingkan peserta yang jauh motivasinya dari medan belajar. Medan yang dimaksud ialah medan psikologis sebagai arena belajar peserta didik
Sementara Jean Piaget yang seorang ahli teori tahap mengemukakan bahwa perkembangan tahap kognitif individu dimulai dari periode sensorimotorik, periode praoperasional, periode operasional konkret, dan periode operasional formal.
Adapun cara belajar menurut teori ini adalah dengan proses pengenalan yang bersifat kognitif. Teori ini berpendapat bahwa cara belajar anak berbeda dengan cara belajar orang dewasa. Orang dewasa menggunakan kemampuan kognitif yang lebih tinggi dalam belajar dibandingkan dengan anak. Oleh karena itu, faktor tahap perkembangan individu menjadi pertimbangan utama dalam berlangsungnya proses belajar.
Piglet akhirnya berkesimpulan bahwa perkembangan kognitif seseorang melalui empat tahapan utama yang secara kualitatif setiap tahapan memunculkan kualikatif yang berbeda.Tahapan kogniti Piaglet adalah sebagai berikut.
a. Periode sensori motor
Periode ini ditandai oleh penggunaan sensori motorik (dalam pengamatan dan pengindraan) yang intensif terhadap dunia di sekitarnya.Prestasi yang dicapai dalam periode ini ialah perkembangan bahasa, hubungan tentang objek, kontrol skema.
b. Periode praoperasional
Periode ini terbagi dua tahapan, yaitu prakonseptual dan intuitif Periode konseptual ditandai dengan cara berpikir yang transuktif (menarik kesimpulan) tentang sesuatu yang khusus atas dasar hal khusus (contoh, sapi disebut juga kerbau). Periode intuitif ditandai oleh dominasi pengamatan yang bersifat egosentris (belum memahami cara orang lain memandang objek sama), seperti searah (selancar). Perilaku kognitif yang tampak, antara lain:
1) self-centered dalam memandang dunianya
2) dapat mengklafikasikan objek-objek atas dasar satu ciri yang sama. mungkin pula memiliki perbedaan dalam hal yang lainnya;
3) dapat melakukan koleksi benda-benda berdasarkan suatu ciri atau kriteria tertentu;
4) dapat menyusun benda-benda, tetapi belum dapat menarik inferensi dari dua benda yang tidak bersentuhan meskipun terdapat dalam susunan yang sama.
c. Periode operasional konkret
Tiga kemampuan dan kecakapan baru yang menandai periode int adalah mengklasifikasikan angka-angka atau bilangan. Dalam periode ini anak mulai pula mengkonservasi pengetahuan tertentu. Perilaku kognitif yang tampak pada periode ini ialah kemampuan dalam proses berpikir untuk mengoperasikan kaidah-kaidah logika meskipun masih terikat dengan objek-objek yang bersifat konkret.
d. Periode operasional formal
Periode ini ditandai dengan kemampuan untuk mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal yang tidak terikat lagi oleh objek-objek yang bersifat konkret. Perilaku kognitif yang tampak
B.Implikasi Teori-Teori Belajar Dalam Pendidikan
Penting bagi seorang pendidik untuk menerapkan teori belajar yang telah ia kuasai. Sedikitnya ada 2 yang mungkin terjadi jika pada diri seorang guru mampu menerapkan teori belajar yang diyakininya dalam kognisi nyata. Pertama, teori yang dikenalnya itu cenderung meningkat baik secara kualitatif maupun kuantitatif sehingga pada suatu saat ia akan kaya dengan khazanah teori belajar dan pembelajaran. Kedua pembelajaran akan optimal baik dilihat dari sudut pandang pengembangan peserta didik maupun aktualisasi kemampuan guru itu sendiri.
1. Implikasi Teori Belajar Behaviorisme dalam Pembelajaran
Proses pembelajaran berpegang teguh pada prinsip dan pemahaman aliran behaviorisme menekankan pada pentingnya keterampilan dan pengetahuan akademik maupun perilaku sosial sebagai hasil belajar.Pendekatan akademik yang lebih menekankan pada penguasaan secara tuntas terhadap apa saja yang dipelajari menjadi langkah penting dalam pencapaian teori behaviorisme ini. Tujuan pendidikan bersifat eksternal, artinya guru yang mengendalikan proses pembelajaran tanpa campur tangan peseta didik
Hasil belajar akan lebih bermakna jika prosesnya menyenangkan peserta didik dan terjadi penguatan (reinforcement). Misalnya, peserta didik menjawab benar maka diberi penguatan oleh guru/pendidik dengan mengucapkan “Jawabanmu bagus” atau “tepat” dan sebagainya. Menurut William C. Crain (1980-9) guru, orang tua, dan pendidik harus memberikan penguatan terutama yang bersifat psikologis dan menghindari penguatan yang lebih bersifat kebendaan.Sedangkan penghargaan (rewards) seharusnya diberikan hanya kepada perilaku yang masuk akal (reasonable) dan tidak bersifat memanjakan. Hindari hukuman (punishments) yang bersifat fisik.
Kurikulum yang berorientasi pada aliran behaviorisme harus sudah menggambarkan perincian tentang apa-apa yang hendak disajikan kepada peserta didik. Kurikulum harus dikristalisasikan dalam satuan acara pembelajaran (SAP) yang dirancang sedemikian rupa sebelum proses pembelajaran dimulai.
2. Implikasi Teori Humanisme dalam Pendidikan
Pandangan kalangan humanisme tentang proses belajar mengimplikasikan perlunya penataan peran guru/tenaga kependidikan dan prioritas pendidikan Teori ini meyakini bahwa guru adalah fasilitator bukan sebagai pengajar belaka. Artinya, pengajar harus bisa memfasilitasi tumbuhnya motivasi belajar dalam diri peserta didik, bukannya berpusat pada proses pembelajaran, Peserta didik harus diberi kesempatan untuk mengeksplorasi dan mengembangkan kesadaran dirinya untuk perkembangan aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik agar peserta didik bisa lebih menguasai informasi atau pengetahuan.
Guru/pendidik berperan sebagai fasilitator, bukan berarti ia harus pasif. akan tetapi justru guru/pendidik harus berperan aktif dalam suatu proses pembelajaran. Menurut Rogers seorang pendidik harus berperan aktif dalam hal-hal berikut ini.
1. Membantu menciptakan iklim kelas yang kondusif dan sikap positif terhadap pembelajaran.
2. Membantu peserta didik mengklasifikasikan tujuan belajar dengan cara memberikan kesempatan kepada peserta didik secara bebas menyatakan apa yang ingin mereka pelajari.
3. Membantu peserta didik mengembangkan dorongan dengan tujuannya sebagai kekuatan pembelajaran.
4. Menyediakan sumber-sumber belajar.
Belajar bermakna terjadi jika kebutuhan peserta didik disertai motivasi instrinsik dapat terpenuhi.Selain itu kurikulum juga tidak bersifat kaku. Guru harus arif dan paham betul atas keunikan peserta didik. Rogers menyarankan agar terciptanya iklim kelas yang memungkinkan terjadinya belajar bermakna perlu dilakukan hal-hal berikut:
1. terimalah peserta didik apa adanya:
2. kenali dan bina minat peserta didik melalui penemuannya terhadap diri sendiri:
3. usahakan sumber belajar yang mungkin dapat diperoleh peserta didik untuk dapat memilih dan menggunakannya
4. gunakan pendekatan
5. tekankan pentingnya penilaian diri sendiri dan biarkan peserta didik mengambil tanggung jawab untuk memenuhi tujuan belajarnya.
3. Implikasi Teori Kognitif dalam Pendidikan
Dari aliran psikologi kognitif, teori Piaget tampak lebih banyak digunakan dalam praktik pendidikan atau proses pembelajar meskipun teori ini bukanlah teori mengajar. Dalam teori Piaget peserta didik harus dibimbing agar aktif menemukan sesuatu yang dipelajarinya, tidak harus berpusat pada guru.Diusahakan agar materi yang diajarkan harus dapat menarik minat anak dan menantang sehingga mereka merasa senang dan akhirnya terlibat dalam proses pembelajaran.
Dalam teorinya, Piaget mengemukakan bahwa kemampuan berfikir anak dengan orang dewasa itu berbeda. Artinya urutan bahan pembelajaran harus menjadi perhatian utama. Anak akan sulit memahami bahan pelajaran jika urutan bahan pelajaran itu loncat-loncat. Bagi anak SD pengoperasian suatu penjumlahan harus menggunakan benda-benda nyata, terutama di kelas-kelas awal karena tahap perkembangan berpikir mereka baru mencapai tahap operasi konkret.Contohnya, untuk menjelaskan operasi penjumlahan 4+2 lebih baik guru memperagakannya dengan memperlihatkan 4 benda dan 2 benda. Jadi, caranya: “Empat buah jeruk ini ditambah dengan dua buah jeruk yang itu, berapa jumlahnya anak-anak?”
Tahap kemampuan berpikir sensori motorik mengimplikasikan bahwa bagi proses belajar harus mencapai kerangka dasar kemampuan berbahasa, hubungan tentang objek, kontrol skema, kerangka berpikir, pembentukan pengertian, dan pengenalan hubungan sebab akibat.
Metode ini selain tidak mengubur sifat egosentris anak juga merupakan dunia anak, buktinya anak senang bermain dan ia akrab dengan bermain.
Tahap kemapuan berpikir formal mengimplikasikan bahwa anak melalui proses belajar mengajar harus mampu menemukan sendiri, memecahkan masalah sendiri, bahkan berpikir menurut konsep sendiri.
Ini berarti bahwa guru harus menciptakan suatu situasi yang memungkinkan anak berinteraksi dengan yang lainnya dan juga guru.
4. Implikasi Teori Belajar Konsep dalam Pembelajaran
Ada 2 langkah dalam pembelajaran yang berbasis teori belajar konsep yaitu:
1. Penentuan Konsep-konsep yang akan diajarkan
Ada dua hal yang harus kita pertimbangkan ketika akan memberikan pembelajaran konsep. Pertama, perkembangan kognitif atau usia peserta didik yang kerap kali membuat biasnya pembelajaran konsep. Artinya, konsep-konsep yang diajarkan harus sesuai dengan perkembangan kognitif atau usia peserta didik atau tergantung pada pencapaian konsep mana yang akan diajarkan kepada peserta.
2. Perencanaan Pembelajaran Konsep
Jika anda sudah memilih konsep-konsep yang akan diajarkan maka selanjutnya anda perlu menentukan strategi-strategi pembelajaran. Ada 2 langkah yang perlu dilaksanakan dalam rencana pembelajaran konsep, yaitu berikut ini.
a. Penentuan tingkat pencapaian konsep
Penentuan tingkat pencapaian konsep perlu didasarkan kepada tuntutan kurikulum, perkembangan peserta didik, dan tingkat kepentingan konsep.
b. Analisi konsep
5.Implikasi Teori Belajar Bermakna Ausubel dalam Pembelajaran
Jika kita bandingkan antara Ausubel dengan teoriwan lainnya, mungkin kita akan tertarik dengan teorinya dan cara Ausubel berteori. Ini dapat terjadi pada diri kita karena ada satu hal yang menonjol dari Ausubel dalam menyusun teorinya, yaitu kemampuannya mengoperasionalkan teori tersebut dalam bentuk nyata dalam suatu proses pembelajaran. Inilah sisi yang menarik dari Ausubel sehingga banyak kalangan yang peduli terhadap teori belajarnya.
Dalam penerapan teorinya pada proses pembelajaran. Ausubel mengajukan beberapa implikasi, yaitu advance organizer, diferensiasi progresif, belajar superordinat, dan penyesuaian intergratif. Dalam mendukung pendapat Ausubel tersebut, Novak (1985) mengajukan penerapan peta konsep dalam suatu proses pembelajaran dengan tujuan agar lebih bermakna. Untuk mendalami beberapa implikasi teori belajar Ausubel tersebut, mari kita pelajari bagian-bagian pemaparan berikut ini.
1. Advance Organizer
Advence organizer diartikan sebagai pengatur awal. Intinya merupakan proses penggalian pengalaman masa lalu yang sudah ada dalam struktur kognitf peserta didik yang relevan dengan materi pembelajaran yang akan disampaikan.Oleh karena itu, advance organizer tersebut suka dianggap semacam pertolongan mental, yang disampaikan sebelum materi pokok pembelajaran dibahas.
2. Diferensi Progresif
Kalau kita cermati secara jeli, dalam konsep belajar bermakna menurut Ausubel dipandang perlu terjadinya pengembangan dan elaborasi konsep-konsep yang tersubsumsi. Caranya dengan mengembangkan konsep-konsep yang lebih umum terlebih dahulu, selanjutnya diberikan konsep-konsep yang lebih mendetail dan khusus sampai kepada contoh-contoh. Dengan demikian, konsep-konsep tersebut dikembangkan dari umum ke khusus. Penyusunan konsep seperti ini. disebutdengan istilah diferensiasi progresif. Oleh sebab itu, suatu konsep yang diajarkan perlu disusun secara hierarkis.
3. Belajar Superordinat
Tampaknya belajar superordinat jarang terjadi di sekolah, sebab kebanyakan guru dan buku sekarang menyajikan konsep-konsep yang lebih inklusif, tetapi ada kalanya penyajian seperti itu mengalami masalah. Kalau begitu maka penting juga dipahami apa yang disebut belajar superordinat.
4. Penyesuaian Integratif
Menurut Ausubel untuk mengatasi atau mengurangi pertentangan kognitif seperti itulah pentingnya penggunaan prinsip-prinsip penyesuaian intergratif yang sering disebut dengan istilah rekonsiliasi integratif.
Ausubel berpendapat bahwa suatu pembelajaran yang bermakna tidak harus selalu terjadi secara diferensiasi progresif, tetapi harus terjadi upaya penggerakan kerangka hierarkis konseptual ke atas dan ke bawah. Artinya perlu diperlihatkan keterkaitan antara konsep-konsep umum dengan konsep-konsep khusus. Selain itu perlu jelas pula konteks dan rentetan penggunaan kata yang telah melebar maknanya atau kasus makna dwifungsi dan sebagainya.
.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
• Proses belajar terjadi dengan adanya tiga komponen pokok yaitu stimulus, respons, dan akibat. Stimulus adalah sesuatu yang datang dari lingkungan yang dapat membangkitkan respons individu. Respons menimbulkan perilaku jawaban atas stimulus. Sedangkan akibat adalah sesuatu yang terjadi setelah individu merespons baik yang bersifat positif ataupun yang negatif. Teori belajar Humanisme memandang bahwa perilaku manusia ditentukan oleh faktor internal dirinya dan bukan oleh kondisi lingkungan ataupun pengetahuan.
• Konsep adalah suatu abstraksi yang mewakili suatu kelas objek-objek kejadian-kejadian, kegiatan-kegiatan atau hubungan yang mempunyai atribut-atribut yang sama. Pandangan kalangan humanisme tentang proses belajar mengimplikasikan perlunya penataan peran guru/tenaga kependidikan dan prioritas pendidikan. Menurut pandangan ini guru/tenaga kependidikan berperan sebagai fasilitator daripada sebagai pengajar belaka.
• Sedikitnya ada empat aplikasi teori belajar yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran. Pertama, advance organizer dan entry behavior pengetahuan siap. Kedua diferensiasi progesif yang menentukan proses pembelajaran yang berlangsung dari umum ke khusus. Ketiga, superordinat yang merupakan pengenalan terhadap konsep-konsep yang telah dipelajari sebelumnya sebagai unsur-unsur dari suatu konsep yang lebih luas. Keempat, penyesuaian interaktif yang merupakan upaya untuk mengatasi dan mengurangi terjadinya pertentangan kognitif dalam proses pembelajaran.
3.2 Saran
• Guru/tenaga kependidikan sebaiknya bukan lagi sebagai pusat proses
• pembelajaran, tetapi yang terpenting adalah memfasilitasi tumbuhnya
• motivasi belajar secara intrinsik pada diri peserta didik. Kebutuhan peserta didik harus menjadi bahan pertimbangan yang akandisampaikan. Selain dapat memotivasi peserta didiknya, seorang guru/pendidik harus memiliki sikap empati, terbuka, jelas dalam menyatakan sesuatu. bertanggung jawab, berpenampilan apa adanya, dan tulus dalam memberikan pelayanan pendidikan bagi peserta didiknya.
DAFTAR PUSTAKA
https://akupintar.id/info-pintar/-/blogs/macam-macam-teori-belajar-dan pembelajaran-yang-harus-guru-tahu
https://www.scribd.com/doc/99891336/Makalah-Kelompok-Teori-Belajar-Dan-Implikasinya-Dalam-Pembelajaran
Teori belajar klaksi dan behavioriatik
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling memengaruhi. Belajar adalah proses merubah tingkah laku, mengasah kemampuan berfikir secara relatif permanen dan secara potensial terjadi sebagai hasil dari praktik atau penguatan yang dilandasi tujuan untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan motivasi adalah sesuatu hal yang dapat mendorong minat dari dalam diri individu agar dapat melakukan tindakan-tindakan atau sesuatu yang menjadi dasar atau alas an seseorang untuk berprilaku atau melakukan sesuatu.
Motivasi belajar dapat timbul karena factor intrinsik, berupa hasrat dan keinginan berhasil dan dorongan kebutuhan belajar, harapan akan cita-cita. Sedangkan factor ekstrinsiknya adalah adanya penghargaan, lingkungan belajar yang kondusif dan kegiatan belajar yang menarik.
Motivasi belajar penting dalam proses belajar siswa. Karena fungsinya yang mendorong, menggerakkan kegiatan belajar. Karena itu, prinsip-prinsip penggerakan motivasi belajar sangat erat kaitannya dengan prinsip-prinsip belajar itu sendiri. Siswa akan suka dan bermotivasi belajar apabila dipelajari mengandung makna tertentu baginya. Ada kemungkinan pelajaran yang disajikan oleh guru tidak dirasakan sebagai bermakna berusaha menjadikan pelajarannya dengan makna bagi semua siswa. Caranya ialah dengan mengkaitkan pelajarannya dengan pengalaman masa lampau siswa, tujuan-tujuan masa mendatang, dan minat serta nilai-nilai yang berarti mereka.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang di maksud dengan motivasi belajar ?
2. Apa tujuan dari motivasi belajar ?
3. Apa macam-macam motivasi belajar ?
4. Apa factor yang mempengaruhi motivasi belajar ?
5. Bagaimana fungsi dari motivasi belajar ?
C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui apa yang di maksud dengan motivasi belajar
2. Untuk mengetahui tujuan motivasi belajar
3. Untuk mengetahui macam-macam motivasi belajar
4. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi motivasi belajar
5. Untuk mengetahui fungsi motivasi belajar
BAB II
PEMBAHASAN
A. DEFINISI MOTIVASI BELAJAR
Menurut Sadirman (2018:75 ) adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang di kehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai. Menurut Uno (2017 : 23 ) mengatakan bahwa motivasi belajar merupakan dorongan internal dan eksternal pada siswa-siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya beberapa indicator atau unsur yang mendukung.
Dari beberapa pengertian motivasi belajar menurut para ahli di atas, dapat di simpulkan motivasi belajar merupakan dorongan yang timbul baik dari dalam maupun dari luar diri siswa , yang mampu menimbulkan semangat dan kegairahan belajar serta memberikan arah pada kegiatan belajar sehingga tujuan yang di kehendaki dapat tercapai.
B. TUJUAN MOTIVASI BELAJAR
Tujuan motivasi dalam proses belajar siswa:
1. Dapat membuat siswa menjadi semangat belajar
2. Sangat berkaitan dengan stimulus yang membuar siswa siswa menjadi terpacu, terdorong untuk melakukan sesuatu
3. Membantu siswa dalam menemukan tujuannya
4. Tumbuhkan sikap optimism dalam diri siswa
5. Siswa menjadi eksploratif
6. Mengajarkan siswa agar tak mudah menyerah
C. MACAM- MACAM MOTIVASI BELAJAR
Menurut Tambunan (2015:196), motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik merupakan jenis motivasi berdasarkan sumbernya. Adapun motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik tersebut :
a. Motivasi intrinsik, adalah motivasi yang di timbulkan dari diri seseorang. Motivasi ini biasanya timbulkan karena adanya harapan, tujuan dan keinginan seseorang terhadap sesuatu sehingga dia memiliki semangat untuk mencapai itu.
b. Motivasi ekstrinsik,adalah sesuatu yang diharapkan akan diperoleh dari luar diri seseorang. Motivasi ini biasanya dalam bentuk nilai dari sesuatu materi, misalnya imbalan dalam bentuk uang atau intensif lainnya yang diperoleh atas sesuatu upaya yang telah dilakukan.
Menurut Sardiman (2018:89), mengatakan bahwa motivasi intrinsik dan ekstrinsik adalah sebagai berikut:
a. Motivasi intrinsik adalah motif motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu rangsangan dari luar,karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.
b. Motivasi ekstrinsik adalah motif motif yang menjadi aktif atau berfungsinya karena ada rangsangannya dari luar.
Menurut pendapat para ahli diatas,dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar yang ada pada diri siswa diantaranya motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang timbul dri dalam diri siswa itu sendiri, tanpa adanya rangsangan dari luar, sebaliknya motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang ditimbul akibat adanya rangsangan dari luar diri siswa.
D. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MOTIVASI BELAJAR
Faktor yang mempengaruhi motivasi belajar :
a. Cita-cita dan aspirasi siswa. Cita-cita akan memperkuat motivasi belajar intrinsic maupun ekstrinsik. Sebab tercapainya suatu cita-cita akan mewujudkan aktualisasi diri.
b. Kemampuan siswa. Keinginan seorang anak perlu dibarengi dengan kemampuan atau kecakapan mencapainya. Secara ringkasan dapat dikatakan bahwa kemampuan akan memperkuat motivasi anak untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangan.
c. Kondisi siswa. Kondisi siswa yang meliputi kondisi jasmani dan rohani mempengaruhi motivasi belajar. Seorang siswa yang sedang sakit, lapar, atau marah-marah akan mengganggu perhatian belajar. Sebaliknya, seorang siswa yang sehat, kenyang dan gembira akan memusatkan perhatian pada penjelasan pelajaran. Dengan demikian, kondisi jasmani dan rohani siswa berpengaruh pada motivasi belajar.
d. Kondisi lingkungan siswa. Lingkungan siswa dapat berupa keadaan alam, lingkungan tempat tinggal, pergaulan sebaya dan kehidupan kemasyarakatan. Sebagai anggota masyarakat, maka siswa dapat terpengaruh oleh lingkungan sekitar. Bencana alam, tempat tinggal yang kumuh, perkelahian antar siswa akan mengganggu kesungguhan belajar. Sebaliknya, kampus sekolah yang indah, pergaulan siswa yang rukun akan memperkuat motivasi belajar. Dengan lingkungan yang aman, tentram, tertib dan indah, maka semangat dan motivasi belajar mudah diperkuat.
e. Unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran. Lingkungan belajar dan pergaulan siswa mengalami perubahan. Lingkungan budaya siswa yang berupa televise dan film semakin menjangkau siswa. Kesemua lingkungan tersebut mendinamiskan motivasi belajar. Guru professional diharapkan mampu memanfaatkan sumber belajar di sekitar sekolah untuk memotivasi belajar siswa.
f. Upaya guru membelajarkan siswa adalah upaya guru dalam mempersiapkan diri untuk membelajarkan siswa mulai dari penguasaan materi, cara memnyampaikan materi, menarik perhatian siswa dan mengevaluasi hasil belajar siswa. Bila upaya guru hanya sekedar mengajar, artinya keberhasilan guru yang menjadi titk tolak, besar kemungkinan siswa tidak tertarik untuk belajar sehingga motivasi siswa menjadi lemah atau kurang.
E. FUNGSI MOTIVASI BELAJAR
Fungsi motivasi belajar :
a. Mengarahkan (directional function)
Dalam mengarahkan kegiatan, motivasi belajar berperan mendekatkan atau menjauhkan individu dri sasara yang akan diicapai. Apabila sasaran atau tujuan merupakan sesuatu yang diinginkan oleh individu, maka motivasi berperan mendekatkan. Sedangkan bila sasaran tidak dingingnkan oleh individu, maka motivasi berperan menjauhi sasaran.
b. Mengaktifkan dan meningkatkan kegiatan (activating and energizing function)
Suatu perbuatan atau kegiatan yang tidak bermotf atau motifnya sangat lemah, akan dilakukan dengan tidak sungguh-sungguh, tidak terarah dan kemungkinan besar tidak akan membawa hasil.sebaliknya apabila motivasinya besar atau kuat,maka akan dilakukan dengan sungguh-sungguh, terarah dan penuh semangat, sehingga kemungkinan akan berhasil lebih besar.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling memengaruhi. Belajar adalah proses merubah tingkah laku, mengasah kemampuan berfikir secara relatif permanen dan secara potensial terjadi sebagai hasil dari praktik atau penguatan yang dilandasi tujuan untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan motivasi adalah sesuatu hal yang dapat mendorong minat dari dalam diri individu agar dapat melakukan tindakan-tindakan atau sesuatu yang menjadi dasar atau alas an seseorang untuk berprilaku atau melakukan sesuatu. Tujuan motivasi dalam proses belajar siswa adalah dapat membuat siswa menjadi semangat belajar, sangat berkaitan dengan stimulus yang membuar siswa siswa menjadi terpacu, terdorong untuk melakukan sesuatu, membantu siswa dalam menemukan tujuannya, tumbuhkan sikap optimism dalam diri siswa, siswa menjadi eksploratif, mengajarkan siswa agar tak mudah menyerah.
Macam-macam motivasi belajar adalah motivasi intrinsik adalah motif motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu rangsangan dari luar,karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu dan motivasi ekstrinsik adalah motif motif yang menjadi aktif atau berfungsinya karena ada rangsangannya dari luar.
B. SARAN
Untuk mendapatkan motivasi belajar yang baik adalah kita harus dapat menemukan lingkungan yang positif, yang bisa memberikan kita dorongan untuk lebih giat belajar dan menemukan hal-hal baru dalam mengasah kemampuan kognitif dari dalam diri.
DAFTAR PUSTAKA
http://repositori.unsil.ac.id ;https://www.kajianpustaka.com ;https://sg.docworkspace.com/d/sIDOw-N9i0d2EmQY ;https://www.wps.com/d/?from=t ;https://m.merdeka.com
Karateristik dan beragam belajar
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebagian orang beranggapan bahwa belajar adalah semata-mata mengumpulkan atau menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi atau materi pelajaran. Ada pula sebagian orang yang memandang belajar sebagai latihan belaka seperti yang tampak pada latihan membaca dan menulis. Namun manifestasi atau perwujudan dasarnya adalah merupakan proses perubahan tingkah laku yang terjadi pada diri seseorang. Perubahan tingkah laku itu biasanya berupa penguasaan terhadap ilmu pengetahuan atau penguasaan terhadap keterampilan dan perubahan yang berupa sikap. Dalam makalah ini kami akan membahas mengenai berbagai macam dari definisi Manifestasi Perilaku Belajar itu sendiri.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Karakteristik Dan Ragam Belajar
Setiap prilaku belajar selalu ditandai oleh cirri-ciri perubahan yang spesifik. Karakteristik perilaku belajar ini dalam beberapa pustaka rujukan, antara lain menurut surya disebut juga sebagai prinsip-prinsip belajar. Diantaranya ciri-ciri perubahan khas yang menjadi karakteristik perilaku belajar yang terpenting adalah:
a) Perubahan Intensional
Perubahan yang terjadi dalam proses belajar adalah berkat pengalaman atau praktek yang dilakukan dengan sengaja dan disadari, atau dengan kata lain bukan kebetulan. Karakteristik ini mengandung pengertian bahwa siswa-siswi menyadari akan adanya perubahan yang dialami, atau ia sekurang-kurangnya ia meraskan adanya perubahan pada dirinya seperti penambahan pengetahuan, kebiasaan, sikap dan pandangan sesuatu, keterampilan, dan seterusnya. Karena secara fitrah individu yang bersangkutan tidak menyadari atau tidak menghendaki keberadaanya.
b) Perubahan Positif Dan Aktif
Perubahan yang terjadi karena proses belajar bersifat positif dan aktif, positif artinya baik, bermartabat, serta sesuai dengan harapan. Hal ini juga bermakna bahwa perubahan tersebut senantiasa merupakan penambahan,yakni diperolehnya sesuatu yang baru (seperti pemahaman dan keterampilan baru) yang lebih baik dari pada sebelumnya. Adapun perubahan yang terjadi dengan sendirinya seeperti karena proses kematangan (msialnya, bayi yang bias merangkak setelah bias duduk), karena usaha anak itu sendirI
c) Perubahan Efektif Dan Fungsional
Perubahan yang timbul karena proses belajar bersifat efektif, yakni berhasil guna. Artinya, perubahan tersebut membawa makna dan manfaat tertentu bagi siswa dan siswi. Selain itu, perubahan dalam proses belajar bersifat fungsional dalam arti bahwa ia relative menetap dan setiap saat apabila dibutuhkan, perubahan tersebut dapat direproduksi dan dimanfaatkan.
perubahan fungsional dapat diharapkan memberi manfaat yang luas misalnya ketika siswa-siswi menempuh ujian dan menyesuaikan diri dengan lingkungan kehidupan sehari-hari dalam mempertahankan kelangsunagn hidupnaya. Selain itu, perubahan effektif dan fungsional biasanya bersifat dinamis dan mendorong timbulnya perubahan positif lainnya. Sebagai contoh, jika seorang siswa/siswi belajar menulis, maka di samping ia akan mampu merangkaikan kata dan kalimat dalam bentuk tulisan, ia juga akan memperoleh kecakapan lainnya seperti membuat catatan,mengarang surat, dan bahkan menyusun karya sastra atau karya ilmiah.
Hasil belajar dipengaruhi beberapa factor, antara lain karakteristik belajar dan motivasi belajar. Karakteristik belajar yaitu kebiasaan belajar yang baik dan motivasi belajar yaitu keseluruhan kekuatan dan daya penggerak/pendorong agar tujuan belajar tercapai optimal.
2. Ragam Belajar
Dalam proses belajar dikenal adanya bermacam-macam kegiatan yang memiliki corak yang berbeda antara satu dan lainnya, baik dalam aspek materi dan metodenya, maupun dalam aspek tujuan dan tingkah laku yang diharapkan. Keanekaragaman jenis belajar ini muncul dalam dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan kehidupan manusia yang juga beraneka macam. Berikut adalah beberapa ragam belajar:
a) Ragam Abstrak
Ragam abstrak adalah belajar yang menggunakan cara berfikir abstrak. Tujuannya adalah untuk memperoleh dan memecahkan masalah-masalah yang tidak nyata. Dalam mempelajari hal-hal yang abstrak diperlukan peranan akal yang kuat. Disamping penguasaan atas prinsip, konsep, dan generalisasi. Termasuk dalam jenis ini misalnya belajar matematika, kimia, kosmografi, astronomi dan juga sebagian materi bidang studi agama seperti tauhid.
b) Ragam Sosial
Ragam social pada umumnya adalah belajar memahami masalah-masalah dan teknik-teknik untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuannya adalah untuk menguasai pemahaman dan kecakapan dalam memcahkan masalah-masalah social seperti masalah keluarga, persahabatan, kelompok dan masalah lainnya yang bersifat kemasyarakatan. Selain itu, belajar social juga bertujuan untuk mengatur dorongan nafsu pribadi demi kepentingan bersama dan member peluang kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya secara berimbang dan proporsional.
c) Ragam Pemecahan Masalah
Ragam pemecahan masalah yaitu belajar dengan menggunakan metode-metode ilmiah atau berfikir secara sistematis, logis, teratur dan teliti. Tujuannya adalah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional,lugas dan tuntas.
d) Belajar Rasional
Belajar rasional adalah belajar dengan menggunakan kemampuan berfikir secara logis dan rasional. Tujuannya adalah untuk memperolah aneka ragam kecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep. Jenis belajar ini erat kaitannya dengan belajar pemecahan masalah.
e) Ragam Keterampilan
Ragam keterampilan adalah belajar dengan menggunakan gerakan-gerakan motorik yakni yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot(neuromuscular) tujuannya adalah untuk memperoleh dan menguasai keterampialan jasmaniah tertentu, dalam belajar jenis ini latihaan secara intensif dan teratur amat diperlukan, termasuk dalam belajar ini misalnya belajar olahraga, music, menari, melukis, memperbaiki benda-benda elektronik dan juga sebagian bidang study agama seperti ibadah shalat dan ngaji.
f) Ragam Kebiasaan
Ragam kebiasaan adalah proses pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru atau perbaikan kebiasaan-kebiasaan yang telah ada, belajar kebiasaan selain menggunakan perintah, suritauladan da pengalaman khusus juga penggunaan ganjaraan dan hukuman (reward&punishment), tujuannya agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan perbuatan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu(kontekstual). Selain itu arti tepat dan positif diatas adalah selaras dengan norma dan tata nilai yang berlaku, baik yang bersifat religious maupun yang bersifat cultural dan tradisional, belajar kebiasaan lebih tepat dilaksanakan dalam konteks pendidikan keluarga sebagaimana yang dimaksut oleh undang-undang system pendidikan nasional tahun 2003 bab VI bagian keenam pasal 27 ayat (1) namun demikian, tentu tidak tertutup kemungkinan penggunaan pelajaran agama sebagai sarana belajar kebiasaan bagi para siswa.
Ragam belajar adalah merupakan keragaman dari metode cara seorang belajar(bias disebut gaya belajar).setiap orang memiliki metode belajar yang berbeda. Metode belajar bisa dibagi 3 yaitu :
1. Visual orang dengan gaya belajar visual cenderung memahami sesuatu (seperti pelajaran) dengan melihatnya secara langsung.Gaya belajar tipe visual adalah gaya belajar yang dominan dengan visual. Berikut beberapa ciri dari belajar tipe visual :
• Berbicara dengan cepat
• Sering menjawab pertanyaan dengan jawaban yang singkat
• Senang terhadap seni dari pada music
• Suka mengantuk ketika mendengarkan penjelasan yang panjang lebar
2. Auditorial orang tersebut lebih mudah untuk memahami sesuatu dengan mendengarnya. Gaya belajar auditorial adalah gaya belajar yang dominan dengan auditorial atau pendengaran. Berikut beberapa cirri dari belajar tipe auditorial ;
• Berbicara dengan diri sendiri saat bekerja atau belajar
• Lebih senang music dari pada seni yang melibatkan visual
• Senang berdiskusi
• Berbicara dan menjelaskan sesuatu dengan panjang lebar
3. Kinestetik orang tersebut lebih mudah memahami sesuatu dengan bergerak (dengan praktek langsung).Gaya belajar tipe kinestetik adalah gaya belajar yang dominan dengan praktek atau eksperimen atau yang dapat diuji coba sendiri. Berikut beberapa cirri dari belajar tipe kinestetik :
• Berbicara dengan perlahan dan cermat
• Berorientasi pada fisik dan banayak gerak
• Menghafal smbil belajar dan melihat
• Banyak menggunakan bahasa tubuh
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
A. Ciri perubahan khas yang menjadi karakteristik perilaku belajar yang terpenting adalah:
• Perubahan intensional
• Perubahan positif dan aktif
• Perubahan efektif dan fungsional
B. Beberapa ragam belajar :
• Belajar abstrak
• Belajar social
• Belajar pemecahan maslah
• Belajar rasional
• Keterampilan
• kebiasaan
C. Metode belajar :
• Visual
• Auditorial
• kinestetik
Konsel dasar belajar
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Belajar merupakan kunci yang paling vital dari setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada pendidikan. Sebagai suatu proses, belajar hampir selalu mendapat tempat yang luas dalam berbagai disiplin Ilmu yang berkaitan dengan upaya kependidikan, misalnya psikologi pendidikan dan psikologi belajar. Karena begitu pentingnya arti belajar maka bagian terbesar upaya riset dan eksperimen psikologi belajar pun diarahkan pada pencapaian pemahaman yang lebih luas dan mendalam mengenai proses perubahan manusia itu.
Konsep dasar belajar merupakan perubahan perilaku manusia manusia. Perubahan dan Kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar. Disebabkan karena kemampuan belajarlah manusia dapat berkembang lebih jauh dari makhluk lainya.
Belajar umumnya adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti berhasil atau gagalnya pencapaian pendidikan itu sangat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa keluarga baik ketika berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri. Oleh karena itu pemahaman yang benar mengenai arti belajar dengan segala aspek, bentuk dan manifestasinya mutlak diperlukan oleh para pendidik. Kekeliruan atau ketidaklengkapan persepsi mereka terhadap proses belajar dan hal-hal yang berkaitan dengannya mungkin akan mengakibatkan kurang bermutunya hasil pembelajaran yang dicapai peserta didik.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan tema pada makalah yang kami susun, maka kami menyimpulkan lima rumusan masalah yang perlu dibahas yaitu:
a. Apa saja definisi dari belajar?
b. Bagaimana proses dan tahapan belajar?
c. Bagaimanakah cara-cara belajar yang baik?
d. Apakah prinsip-prinsip dalam belajar?
e. Apa saja saran yang perlu diketahui untuk membiasakan belajar yang optimal dan efisien?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Belajar
Belajar (Ing: to study) berasal dari kata bendadasar ajar artinya petunjuk yang diberikan kepada seseorang supaya diketahui. Dengan demikian belajar mempunyai beberapa arti yaitu berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih dan berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman.
Skinner, seorang pakar teori belajar dalam buku Educational Psychology berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi (penyesuaian tingkah laku) yang berlangsung secara progresif. Pendapat ini diungkapkan dengan pernyataan ringkasnya, bahwa belajar adalah: “…a proces of progressive behaviour adaptation ”. Berdasarkan eksperimennya, Skinner percaya bahwa proses adaptasi tersebut akan mendatangkan hasil yang optimal apabila belajar diberi penguat (reinforcer).
Hintzman dalam bukunya The Pshycology of Learning and Memory berpendapat bahwa: “learning is a change in organism due to experience which can affect the organism’s behaviour”. Jadi dalam pandangan Hintzman, perubahan yang ditimbulkan oleh pengalaman dapat dikatakan belajar apabila mempengaruhi organisme.
Dalam penjelasan selanjutnya, Hintzman menambahkan bahwa pengalaman hidup sehari-hari dalam bentuk apa pun sangat memungkinkan untuk diartikan sebagai belajar. Alasannya, sampai batas tertentu pengalaman hidup juga berpengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian organisme yang bersangkutan. Mungkin inilah dasar pemikiran yang mengilhami gagasan everyday learning yang dipopulerkan oleh Profesor John B. Biggs.
Biggs sendiri mendefinisikan belajar menjadi tiga macam rumusan, yaitu rumusan kuantitatif, rumusan institusional dan rumusan kualitatif. Dalam rumusan-rumusan ini kata seperti perubahan dan tingkah laku tidak lagi disebut secara eksplisit mengingat kedua istilah ini menjadi kebenaran umum yang diketahui semua orang yang terlibat dalam proses pendidikan.
Secara kuantitatif, belajar berarti kegiatan pengisian atau pengembangan kemampuan kognitif dengan fakta sebanyak-banyaknya. Jadi, belajar dalam hal ini dipandang dari sudut berapa banyak materi yang dikuasai siswa.
Secara institusional, belajar dipandang sebagai proses validasi terhadap penguasaan siswa atas materi-materi yang telah mereka pelajari. Ukurannya adalah semakin baik mutu mengajar yang dilakukan guru maka akan semakin baik pula mutu perolehan siswa yang kemudian dinyatakan dalam bentuk skor atau nilai.
Adapun pengertian balajar secara kualitatif adalah proses memperoleh arti-arti dan pemahaman-pemahaman serta cara-cara menafsirkan dunia disekeliling siswa. Belajar dalam pengertian ini difokuskan pada tercapainya daya pikir dan tindakan yang berkualitas untuk memecahkan masalah-masalah yang sedang dan akan dialami siswa.
Berdasarkan berbagai pendapat para pakar yang telah diuraikan di atas, secara umum belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.
B. Proses dan Tahapan Belajar
Proses berasal dari bahasa Latin processus yang berarti berjalan kedepan. Kata ini mempunya konotasi urutan langkah atau kemajuan yang mengarah pada suatu tujuan. Reber mengatakan dalam psikologi belajar, proses berarti cara atau langkah-langkah khusus yang dengannya beberapa perubahan ditimbulkan hingga tercapai nya hasil-hasil tertentu. Jadi, proses belajar dapat diartikan sebagai tahapan proses perubahan perilaku kognitif, efektif dan psikomotor yang terjadi dalam diri siswa. Perubahan tersebut bersifat positif dalam arti berorientasi kearah yang lebih maju dari pada keadaan sebelumnya.
Menurut Arno F. Wittig (1981) dalam bukunya Psychology of Learning, setiap proses belajar selalu berlangsung dalam tiga tahapan yaitu:
1. Tahap penerimaan informasi
2. Tahap penyimpanan informasi
3. Tahap memanggil kembali informasi
Response
Storage Recall
Acquisition
Pada tingkatan pertama seorang siswa mulai menerima informasi sebagai stimulus dan melakukan respons terhadapnya, sehingga menimbulkan pemahaman dan perilaku baru. Pada tahap ini terjadi pula asimilasi antara pemahaman dengan perilaku baru dalam kesulurahan perilakunya. Proses penerimaan dalam belajar merupakan tahap yang paling mendasar. Kegagalan dalam tahap ini akan mengakibatkan kegagalan pada tahap-tahap berikutnya.
Pada tingkatan penyimpanan, seorang siswa secara otomatis akan mengalami proses penyimpanan pemahaman dan perilaku baru yang mereka peroleh ketika dalam tahap penerimaan informasi. Peristiwa ini sudah tentu melibatkan fungsi short term dan long term memori.
Pada tingkatan terakhir, peserta didik akan mengaktifkan kembali fungsi-fungsi sistem memorinya seperti ketika menjawab pertanyaan atau menyelesaikan masalah. Tahap ini pada dasarnya adalah upaya atau peristiwa mental dalam mengungkapkan dan memproduksi kembali informasi yang tersimpan dalam memori sebagai respons yang sedang dihadapi.
Menurut Albert Bandura (1977), seorang behaviouris moderat penemu teori social learning, bahwa setiap proses belajar (terutama belajar social dalam menggunakan model) terjadi dalam tahapan peristiwa berikut:
1. Attentional Phase
2. Retention Phase
3. Reproduction Phase
4. Motivation Phase
Impuls Response
reproduction
attention
motivation
retention
Tahap-tahap di atas berawal dari adanya peristiwa stimulus atau sajian perilaku model dan berakhir dengan penampilan atau kinerja (performance) tertentu sebagai hasil belajar seorang siswa. Dalam bukunya, Social Learning Theory, Albert Bandura sebagaimana yang dikutip oleh Pressly dan McCormic (1995:217-218) menguraikan tahapan-tahapan tersebut seperti tahapan-tahapan di bawah ini.
Tahap Perhatian. Pada tahap pertama ini para siswa pada umunya memusatkan perhatian pada objek materi atau perilaku model yang lebih menarik terutama karena keunikannya dibanding dengan materi atau dengan perilaku lain yang sebelumnya telah mereka ketahui. Untuk menarik perhatian para peserta didik, guru dapat mengekspresikan suara dengan intonasi khusus ketika menyajikan pokok materi atau bergaya dengan mimik tersendiri ketika menyajikan contoh perilaku tertentu.
Tahap Penyimpanan. Dalam tahap ini informasi berupa materi dan contoh perilaku model itu ditangkap, diproses dan disimpan dalam memori. Para peserta didik lazimnya akan lebih baik dalam menangkap dan menyimpan segala informasi yang disampaikan atau perilaku yang dicontohkan apabila disertai penyebutan atau penulisan nama, istilah dan label yang jelas serta contoh perbuatan yang akurat.
Tahap Reproduksi. Segala bayangan atau kode-kode simbolis yang berisi informasi pengetahuan dan perilaku yang telah tersimpan dalam memori peserta didik itu diproduksi kembali. Untuk mengidentifikasi tingkatpenguasaan para peserta didik, guru dapat menyuruh mereka membuat atau melakukan lagi apa yang telah mereka serap.
Tahap Motivasi. Tahap terakhir dalam proses terjadinya belajar atau pembelajaran adalah tahap penerimaan dorongan yang dapat berfungsi sebagai reinforcement. Pada tahap ini, guru dianjurkan untuk memberi pujian, hadiah, atau nilai tertentu kepada peserta didik yang kinerjanya memuaskan. Sementara mereka yang belum menunjukkan kinerja yang memuaskan perlu diyakinkan akan arti penting penguasaan materi atau perilaku yang disajikan guru bagi kehidupan mereka. Seiring dengan upaya ini, ada baiknya ditunjukkan pula bukti-bukti kerugian orang yang tidak menguasai materi tersebut.
C. Cara Belajar yang Baik
Setiap peserta didik yang ingin berhasil dalam belajarnya pasti akan berusaha agar tujuannya bisa tercapai. Berbagai usaha dapat dilakukan untuk memperoleh hasil yang maksimal. Usaha untuk memperoleh hasil yang maksimal pada intinya adala belajar dengan cara yang baik, sesuai, tepat dan efektif. Namun model belajar setiap orang bisa berbeda-beda karena pengalaman keberhasilan seseorang dalam studinya tidak selalu sama persis. Maka disini akan disampaikan hal yang umumnya saja tentang hal yang perlu diperhatikan untuk cara belajar dengan baik, di antaranya adalah:
1. Mempunyai Fasilitas dan Perabotan Belajar.
Orang yang belajar tanpa dibantu dengan fasilitas tidak jarang mendapatkan hambatan dalam menyelesaikan kegiatan belajar. Karenanya fasilitas tidak bisa diabaikan dalam masalah belajar.
Fasilitas dan perabot belajar yang dimaksud tentu saja berhubungan dengan masalah materiil berupa kertas, pensil, buku catatan, meja dan kursi, mesin ketik (sekarang umumnya komputer), kertas karbon dan sebagainya.
2. Mengatur Waktu Belajar
Pelajar tidak bisa membagi waktunya akan menghadapi kebingungan, pelajaran apa yang harus dipelajari hari ini atau esok hari. Mahasiswa akan merasakan waktu yang terlalu sempit untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan masalah belajar.dengan demikian, pelajar atau mahasiswa jangan sekali-kali mengabaikan masalah pembagian waktu ini, sekiranya ingin menjadi orang yang sukses studi.
3. Menguasai Bahan Pelajaran.
Setelah sekolah atau kuliah, jangan lupa untuk mengulangi bahan pelajaran di rumah atau di asrama. Apa yang guru / dosen jelaskan tidak mesti semuanya terkesan dengan baik. Tentu ada kesan-kesan yang masih samar-samar dalam ingatan. Pengulangan sangat membantu untuk memperbaiki semua kesan yang masih samar-samar itu untuk menjadi kesan-kesan yang sesungguhnya, yang tergambar jelas dalam ingatan.
4. Menghafal bahan pelajaran.
Menghafal bahan pelajaran merupakan salah satu kegiatan dalam rangka penguasaan bahan.
5. Membaca buku
Kegiatan membaca adalah kegiatan yang paling banyak dilakukan selama menuntut ilmu di sekolah atau di perguruan tinggi.
6. Membuat ringkasan dan ikhtisar.
Bagian kegiatan yang tidak kalah pentingnya dari semua kegiatan belajar adalah membuat ringkasan atau ikhtisar. Kegiatan ini dilakukan dengan sadar dan dengan tujuan tertentu. Kegiatan membuat ringkasan atau ikhtisar ini biasanya seseorang lakukan setelah dia selesai membaca buku, suatu bab, atau sub bab tertentu. Kegiatan membuat ringkasan atau ikhtisar ini tidak lain adalah kegiatan yang berupaya untuk memadatkan isi dengan landasan kerangka dasarnya dan menghilangkan pikiran-pikiran jabaran.
7. Mengerjakan tugas
Selama menuntut ilmu di lembaga-lembaga pendidikan formal, baik pelajar atau mahasiswa tidak akan pernah melepaskan diri dari keharusan mengerjakan tugas-tugas studi. Tugas-tugas itu pun dapat mengasah pemahaman para pelajar atau mahasiswa akan materi yang telah diajarkan.
8. Memanfaatkan Perpustakaan
Perpustakaan sebagai wadah berhimpunnya sejumlah literatur (buku) yang diperuntukkan bagi mereka yang haus ilmu. dengan begitu, maka perpustakaan terkesan menyenangkan dan menyejukkan bagi yang melihat dan mendengarnya. Perpustakaan identik dengan dunia pendidikan. Maka sudah seharusnya fungsi perpustakaan dimaksimalkan. Namun menurut pemakalah, ada baiknya perpustakaan itu sendiri tidak digunakan untuk tempat belajar, karena adanya keramaian pengunjung yang biasanya sesuai dengan banyaknya buku. Perpustakaan dijadikan tempat mengambil informasi-informasi dalam buku-buku. Sedang tempat belajar baiknya berada di tempat yang tidak terlalu ramai bahkan sunyi tenang. Misalnya didekat pancuran air dan tempat yang rimbun pepohonan, dengan bunyi air yang khas insya Allah bisa meningkatkan daya pikir dan berada ditempat yang kaya oksigen bisa membuat suasana menjadi sejuk dan membantu kinerja otak yang membutuhkan oksigen.
Dr. Rudolf Pintner mengemukakan bagaimana cara-cara belajar yang baik sebagai berikut:
1. Jangka waktu belajar
Dari berbagai percobaan ternyata jangka waktu belajar yang produktif seperti menghafal, mengetik, mengerjakan soal hitungan dan sebagainya adalah antara 20-30 menit. Jangka waktu yang lebih dari itu untuk belajar yang benar-benar memerlukan konsentrasi perhatian relatif kurang atau tidak produktif.
Jangka waktu tersebut tidak berlaku bagi mata pelajaran yang memerlukan pemanasan, seperti sejarah, filsafat dan sebagainya.
2. Pembagian waktu belajar
Belajar yang terus menerus dalam jangka waktu yang lama tanpa istirahat tidak efisien dan tidak efektif. Sehingga dalam hal ini pembagian waktu belajar sangat diperlukan. Hukum Jost yang sampai sekarang diakui kebenarannya yaitu 30 menit 2 kali sehari dalam 6 hari lebih baik dan efektif dari pada sekali belajar selama 6 jam tanpa berhenti.
3. Membatasi kelupaan
Bahan pelajaran yang telah kita pelajari sering kali mudah dilupakan. Maka untuk menghindari kelupaan bahkan lupa sama sekali, dalam belajar perlu diadakan review untuk mengingat kembali bahan yang telah dipelajari. Adanya review ini sangat penting, terutama bagi bahan pelajaran yang sangat luas dan memakan waktu beberapa semester untuk mempelajarinya.
D. Prinsip-Prinsip dalam Belajar
1. Kematangan jasmani dan rohani
Salah satu prinsip belajar adalah harus mencapai kematangan jasmani dan rohani sesuai dengan tingkatan yang dipelajarinya. Kematangan jasmani yaitu telah sampai pada batas minimal umur serta kondisi fisiknya telah cukup kuat untuk melakukan kegiatan belajar. Kematangan rohani artinya telah memiliki kemampuan secara psikologis untuk melakukan kegiatan belajar. Misalnya kemampuan berpikir, ingatan, fantasi, dan sebagainya.
2. Memiliki kesiapan
Setiap orang yang hendak melakukan kegiatan belajar harus memiliki kesiapan yakni dengan kemampuan yang cukup baik fisik, mental maupun perlengkapan belajar. Kesiapan fisik berarti memiliki tenaga yang cukup dan kesehatan yang baik, sementara kesiapan mental, memiliki niat dan motivasi yang cukup untuk melakukan kegiatan belajar. Belajar tanpa kesiapan fisik, mental dan perlegkapan akan banyak mengalami kesulitan, akibatnya tidak memperoleh hasil belajar yang baik.
3. Memahami tujuan
Setiap orang belajar harus memahami apa tujuannya, kemana arah tujuan itu dan apa manfaat bagi dirinya. Prinsip ini sangat penting dimiliki oleh orang belajar agar proses yang dilakukannya dapat cepet selesai dan berhasil. Belajar tanpa memahami tujuan dapat menimbulkan kebingungan pada orang yang hilan kegairahan, tidak sistematis, atau asal ada saja. Orang yang belajar tanpa tujuan ibarat kaal berlayar tanpa tujuan terombang – ambing tak tentu arah yang dituju sehingga akhirnya bisa terlanggar kbatu karang atau terdampar ke suatu pulau.
4. Memiliki kesungguhan
Orang yang belajar harus memiliki kesungguhan untu melaksanakannya. Belajar tanpa kesungguhan akn memperoleh hasil yang kurang memuaskan. Selain itu akan banyak waktu dan tenaga terbuang dengan percuma. Sebaliknya, belajar dengan sungguh – sungguh serta tekun akn memperoleh hasil yang maksimal dan penggunaan waktu yang efektif. Prinsip kesungguhan sangat penting artinya. Biarpun seseorang itu sudah memiliki kematangan, kesiapan serta mempuyai tujuan yang konkret dalam melakukan kegiatan belajarnya, tetapikalu tidak bersungguh- sungguh, belajar asal ada saja, bermals-malas, akibatnya tidak memperoleh hasil yang memuaskan.
5. Ulangan dan latihan
Prinsip yang tak kalah pentingnya adalah ulangan dan latihan. Seseuatu yang dipelajari perlu diulang agar meresap dalam otak, sehingga dikusai sepenuhnya dan sukar dilupakan. Sebaliknya belajar tanpa diulang hasilnya akan kurang memuaskan. Bagaimanapun pintarnya seseorang harus mengulang pelajarannya atau berlatih sendiri dirumah agar bahan-bahan yang dipelajari tambah meresap dalam otak, sehingga tahan lama dalam ingatan. Mengulang pelajaran adalah salah satu cara untuk membantu berfungsinya ingatan.
E. Saran-saran untuk membiasakan belajar yang optimal dan efisien.
Berikut ini adalah saran-saran yang dikemukakan Crow dengan singkat dan terinci untuk mencapai hasil belajar yang efisien:
1. Miliki dahulu tujuan belajar yang pasti.
2. Usahakan adanya tempat belajar yang memadahi.
3. Jaga kondisi fisik jangan sampai mengganggu konsentrasi dan keaktifan mental.
4. Rencanakan dan ikutilah jadwal untuk waktu belajar.
5. Selingilah belajar itu dengan waktu-waktu istirahat yang teratur.
6. Carilah kalimat-kalimat topik atau inti pengertian dari setiap paragrap.
7. Selama belajar gunakan metode pengulangan dalam hati (silent recitation).
8. Lakukan meode keseluruhan (whole methode) bilamana mungkin.
9. Usahakan agar dapat membaca cepat tetapi cermat.
10. Buatlah catatan-catatan atau rangkuman yang tersusun rapi.
11. Adakan penilaian terhadap kesulitan bahan untuk dipelajari lebih lanjut.
12. Susunlah dan buatlah pertanyaan-pertanyaan yang tetap, dan usahakan / cobalah untuk menemukan jawabannya.
13. Pusatkan perhatian dengan sungguh-sungguh pada waktu belajar.
14. Pelajari dengan teliti tabel-tabel, grafik-grafik dan bahan ilustrasi lainnya.
15. Biasakanlah membuat rangkuman dan kesimpulan.
16. Buatlah kepastian untuk melengkapi tugas – tugas belajar itu.
17. Pelajari baik-baik yang dikemukakan oleh pengarang, dan tenanglah jika diragukan kbenarannya.
18. Analisis kebiasaan belajar yang dilakukan, dan cobalah untuk memperbaiki kelemahan-kelemahannya.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Hakikat belajar adalah tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Perubahan dan tingkah laku menjadi dua mainstream utama di mana seseorang dapat dikatakan telah mengalami proses pembelajaran.
Sebagai negara yang akan maju dengan pendidikan ini maka belajar mempunyai arti penting dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air, seperti dalam cita-cita bangsa nomor dua yaitu Mencerdaskan Kehidupan Bangsa. Maka jelaslah bahwa suatu keberhasilan individu, kelompok bahkan negara dapat terwujud dengan suatu ajaran pendidikan yang dinamakan dengan belajar.
B. PENUTUP
Demikianlah yang dapat kami paparkan mengenai materi Konsep Dasar Belajar dan Prinsip-Prinsip Belajar, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahan yang kiranya belum kami ketahui. Penulis banyak berharap kepada para pembaca yang budiman memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi kesempurnaan makalah ini dan sekaligus makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami pada khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
M. Ngalim Purwanto. Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), Hal. 114-115
M. Dalyono. Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), Hal. 51-54
M. Ngalim Purwanto. Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), Hal. 120-121
ISyaiful Bahri Djamarah. Rahasia Sukses Belajar,(Jakarta: Rineka Cipta, 2002), Hal. 40