BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Fenomena pembelajaran dapat dijelaskan dan dimaknai oleh teori-teori belajar, oleh karena anda merupakan personel yang akan terlibat di dalam pembelajaran maka pada bagian ini anda diajak berdiskusi tentang berbagai hal yang berkaitan dengan teori-teori belajar dan implikasinya dalam suatu pembelajaran.
Suatu teori bukan hanya dapat membantu dalam memahami fenomena pembelajaran, tetapi juga dapat menjelaskan dan memaknai setiap fenomena pembelajaran. Teori yang anda kuasai akan menjadi kerangka pikir dalam mengambil putusan pendidikan atau pembelajaran, pisau pemilah dalam pemecahan masalah, dan bahkan sebagai bagian hidup yang integratif
Makalah ini dirancang dengan mengetengahkan lima teori belajar dan implikasinya dalam pembelajaran. Pembahasan teoritis dan contoh-contohnya disajikan pada Bab II. yang materinya mencakup teori belajar (1) behaviourisme, (2) humanisme, (3) kognitif. (4) konsep. (5) teoribelajar bermakna dan disajikan pula beberapa implikasi teori tersebut dalam suatu pembelajaran
1.2 Rumusan Masalah
A. Teori-Teori Belajar?
B. Implikasi Teori-Teori Belajar Dalam Pendidikan?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui Teori-Teori Belajar
2. Untuk mengetahui Implikasi Teori-Teori Belajar Dalam Pendidikan
3. Untuk mengetahui Mengapa Mempelajari Teori Pembelajaran Dalam Pendidikan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Teori – Teori Belajar
Berbagai teori belajar yang dapat diaplikasikan dalam proses pembelajaran di Sekolah Dasar akankita bahas bersama. Adapun paparan dalam proses pembelajaran berkaitan dengan teori belajar behavioristik. humanistik, teori kognitif, teori belajar bermakna, dan teori belajar konsep.
1.Teori Behavioristik
Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristic Atau dengan kata lain belajar adalah perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuanya untuk bertingkah laku dengan carayang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon.
Tokoh pelopor teori behavioristik antara lain J.B. Watson. Thorndike, dan B.F. Skinner. J.B Watson (1878-1958) mengemukakan bahwa perilaku manusia disebabkan oleh pembentukan faktor lingkungan. Bagi Watson Lingkungan adalah faktor dominan dan yang paling penting bagi tumbuh berkembang anak. Bahkan ia mengemukakan pendapat untuk bayi Albert yang dinilai negatif oleh masyarakat Amerika waktu itu Beri aku bayi, selanjutnya terserah dapat dibentuk mau jadi apa saja ” Begitulah pendapat Watson yang akhirnya membuat para orang tua takut menyekolahkan anaknya karena khawatir anak mereka dijadikan orang gila, pemabuk, dan sebagainya.
Ditengah keresahan masyarakat akibat teori Watson munculah pendapat Thorndike (1874-1974) yang mengemukakan bahwa belajar lebih bersifat meningkat bertahap ketimbang karena hadirnya pemahaman. Artinya, menurut teori Thorndike disini belajar melalui langkah-langkah kecil yang sistematis dan bertahap daripada sebuah lompatan yang besar. Thorndike pada tahun 1930-an terkenal akan hukum-hukum belajarnya yaitu:
a. Hukum kesiapan
b. Hukum latihan
c. Hukum akibat
d. Hukum berganda
e. Sikap
f. Elemen-elemen berpotensi
g. Respons dengan analogi, dan
h. Pergeseran asosiatif
pengulangan suatu perilaku pada praktiknya terkadang tidak akurat. Dalam revisi hukum akibat, Thorndike mengemukakan bahwa reinforcement akan menguatkan suatu hubungan sedangkan hukuman tidak berpengaruh pada kekuatan hubungan. Sebagai contoh, murid yang diberi hukuman karena salah mengerjakan tugas belum tentu membuatnya mengulangi tugas pelajaran tersebut. Sebaliknya peserta didik yang betul mengerjakan tugas diberi reinforcement berupa pujian sehingga ia semakin sungguh-sungguh dalam belajarnya.
Adapun cara belajar menurut teori ini adalah dengan mengamati perkembangan peserta didik. Perilaku terbentuk dengan adanya ikatan asosiatif antara stimulus dan respon. Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang menghindari hal-hal yang menyakitkan dan berprilaku sesuai dengan pola stimulus respon yang terjadi.
Belajar dimodifikasi oleh lingkungan. Dalam prosesnya mengandung tiga pokok yakni stimulus, respon, dan akibat. Stimulus datang dari lingkungan yang dapat membangkitkan tanggapan individu.Respon menimbulkan perilaku dari stimulus yang diberikan sedangkan akibat terjadi setelah individu memberi repson postif ataupun negatif.
Reinforcement (penguatan) menjadi prinsip utama dalam memperkuat lekatnya hasil belajar pada individu (Agus Taufik, 2007:6.5). Suatu pemahaman yang tepat memberikan kepuasan pada diri individu tetapi mereka cenderung menghindari sesuatu yang tidak memberikan kepuasan. Pemberian penguatan juga harus mewaspadai tricky matter, yakni proses penguatan yang keliru, tidak sesuai dengan tujuan utamanya. Misalnya, seorang ibu meminta anaknya untuk menyapu rumah dengan iming-iming akandiberikan uang dengan tujuan anaknya mempunyai kebiasaan menyapu lantai hingga bersih. Masalahnya, apa kita yakin bahwa anak itu menyapu kembali rumah di lain waktu dengan kesadaran dirinya sendiri? Mari kita teruskan ke teori selanjutnya.
2. Teori Humanisme
Tokoh pelopor teori belajar Humanisme antara lainAbraham Maslow dan Carl Rogers. Maslow meyakini bahwa belajar merupakan kebutuhan akanperkembangan motivasi. Dalam mencapai sesuatu manusia tidak akan pernah puas. rasa puas hanya terjadi sesaat saja sehingga manusia mencari peluang lain untuk menutupi kebutuhannya. Menurut Maslow, puncak kebutuhan yang sekaligus sebagai ukuran keberhasilan individu ialah berhasil dalam mengaktualisasikan diri dalam dunianya
Sementara Carl Rogers seorang ahli bimbingan konseling dengan teori client centered-nya berpendapat bahwa manusia adalah makhluk yang rasional. sosialis, ingin maju dan realistis sehingga manusia memiliki potensi untuk tumbuh dengan aktual serta memiliki martabat yang tinggi. Rogersmenempatkan manusia secara manusiawi dalam martabat kemanusiannya.
Bagi Rogers, guru merupakan fasilitator yang memungkinkan peserta didik paham akan sesuatu hal. Selain itu, dalam membimbing perlu diberinya kebebasan. Prinsip learning to be free adalah ide Rogers untuk mengkonsepsikan pembelajaran berbasis becoming a person, freedom to be, dan courage to be. Menurutnya, pembelajaran berbasis learning to be free mampu membuat peserta didik bersikap lebih otonom, lebih spontan, dan lebih meyakini dirinya sendiri. Senada dengan pengalaman Rogers ini, Djawad Dahlan (1985:41) sampai kepada suatu ungkapan yang menyatakan bahwa learning to be free merupakan perkembangan yang berarti untuk menjadi manusia yang “menjadi” becoming human
Adapun cara belajar menurut teori ini adalah dengan mengembangkan aktualisasi diri untuk mencapai puncak perkembangan individu. Apabila seseorang mampu mengembangkan potensinya serta merasa dirinya utuh, bermakna dan berfungsi (fully functioning person) maka orang itu bukan hanya akan berguna bagi dirinya sendiri tapi juga berguna bagi lingkungan sekitarnya. Teori ini berpendapat bahwa motivasi belajar harus datang dari dalam diri individu. intelektual dan emosional sama sekali tidak ada pengaruhnya dalam proses pembelajaran.
Carl Rogers mengemukakan prinsip-prinsip belajar sebagai berikut ini.
a. Manusia mempunyai dorongan alamiah untuk belajar; dorongan ingin tahu, melakukan eksplorasi dan mengasimilasikan pengalaman baru.
b. Belajar akan bermakna apabila materi yang dipelajari relevan dengan kebutuhan anak.
c. Belajar harus diperkuat dengan jelas mengurangi ancaman eksternal. seperti hukuman, penilaian, sikap merendahkan murid, mencemoohkan dan sebagainya.
d. Belajar atas inisiatif sendiri akan melibatkan keseluruhan pribadi, baik faktor internal maupun personal.
e. Sikap mandiri, kreativitas, dan percaya diri diperkuat dengan penilaian atas diri sendiri.
Menurut teori ini salah satu karakteristik yang harus ada pada diri pendidik adalah memiliki kemampuan memotivasi belajar peserta didiknya.Selain itu guru harus memiliki sikap empati (emphatic), terbuka (open mindedness), keaslian (genuineness), kekonkretan (concreteness), dan kehangatan (warmth)
Sikap empati (emphatic) merujuk kepada sikap guru yang mau memposisikan dirinya pada kerangka berfikir peserta didik sehingga guru dapat merasakan apa yang peserta didik rasakan dan alami. Keterbukaan (open mindedness) merujuk pada kemampuan guru untuk membuka diri, siap dikritik. siap diberi masukan, siap dinilai, dan diberi pujian. Keaslian (genuineness) merujuk kepada penampilan apa adanya dan tidak dibuat-buat. Kekonkretan (concreteness) merujuk pada kejelasan dalam menyatakan sesuatu, memberikan tanggung jawab sesuai dengan kemampuan peserta didik dan realistis. Kehangatan (warmth) merujuk pada jalinan komunikasi yang secara psikologis terasa nyaman dan aman bagi peserta didik disertai ketulusan dalam memberikan pelayanan pendidikan
3. Teori Belajar Kognitif
Tokoh pelopor teori belajar kognitif yang terkenal antara lain Max Wertheimer, Wolfgang Kohler, Kurt Koffka, Kurt Lewin, dan Jean Piaget. Max Wertheimer (1880-1943), Wolfgang Kohler (1887-1967). Kurt Koffka (1886 1941) merupakan pionir teori gestalt (Agus Taufik, 2007: 6.8). Teori ini menekankan bahwa keseluruhan lebih berarti daripada bagian-bagian. Artinya proses belajar dalam teori ini harus dimulai dari keseluruhan dahulu, baru menganalisa bagian-bagian atau unsur-unsurnya. Misalnya, permulaan membaca untuk anak SD yang baik adalah mengajarinya keseluruhan baru dianalisis/dipisahkan per kata, per suku kata, dan per huruf. Contoh.
Ini-ibu-Budi
I-ini i-bu Bu-di
I-n-i i-b-u B-u-d-i
Kurt Lewin (1890-1947) merupakan pengembang teori motivasi di sekitar teori medan (Agus Taufik, 2007: 6.8). Teori ini mengemukakan bahwa semakin dekat peserta didik dengan medanbelajarnya, motivasi belajarnya cenderung lebih kuat dibandingkan peserta yang jauh motivasinya dari medan belajar. Medan yang dimaksud ialah medan psikologis sebagai arena belajar peserta didik
Sementara Jean Piaget yang seorang ahli teori tahap mengemukakan bahwa perkembangan tahap kognitif individu dimulai dari periode sensorimotorik, periode praoperasional, periode operasional konkret, dan periode operasional formal.
Adapun cara belajar menurut teori ini adalah dengan proses pengenalan yang bersifat kognitif. Teori ini berpendapat bahwa cara belajar anak berbeda dengan cara belajar orang dewasa. Orang dewasa menggunakan kemampuan kognitif yang lebih tinggi dalam belajar dibandingkan dengan anak. Oleh karena itu, faktor tahap perkembangan individu menjadi pertimbangan utama dalam berlangsungnya proses belajar.
Piglet akhirnya berkesimpulan bahwa perkembangan kognitif seseorang melalui empat tahapan utama yang secara kualitatif setiap tahapan memunculkan kualikatif yang berbeda.Tahapan kogniti Piaglet adalah sebagai berikut.
a. Periode sensori motor
Periode ini ditandai oleh penggunaan sensori motorik (dalam pengamatan dan pengindraan) yang intensif terhadap dunia di sekitarnya.Prestasi yang dicapai dalam periode ini ialah perkembangan bahasa, hubungan tentang objek, kontrol skema.
b. Periode praoperasional
Periode ini terbagi dua tahapan, yaitu prakonseptual dan intuitif Periode konseptual ditandai dengan cara berpikir yang transuktif (menarik kesimpulan) tentang sesuatu yang khusus atas dasar hal khusus (contoh, sapi disebut juga kerbau). Periode intuitif ditandai oleh dominasi pengamatan yang bersifat egosentris (belum memahami cara orang lain memandang objek sama), seperti searah (selancar). Perilaku kognitif yang tampak, antara lain:
1) self-centered dalam memandang dunianya
2) dapat mengklafikasikan objek-objek atas dasar satu ciri yang sama. mungkin pula memiliki perbedaan dalam hal yang lainnya;
3) dapat melakukan koleksi benda-benda berdasarkan suatu ciri atau kriteria tertentu;
4) dapat menyusun benda-benda, tetapi belum dapat menarik inferensi dari dua benda yang tidak bersentuhan meskipun terdapat dalam susunan yang sama.
c. Periode operasional konkret
Tiga kemampuan dan kecakapan baru yang menandai periode int adalah mengklasifikasikan angka-angka atau bilangan. Dalam periode ini anak mulai pula mengkonservasi pengetahuan tertentu. Perilaku kognitif yang tampak pada periode ini ialah kemampuan dalam proses berpikir untuk mengoperasikan kaidah-kaidah logika meskipun masih terikat dengan objek-objek yang bersifat konkret.
d. Periode operasional formal
Periode ini ditandai dengan kemampuan untuk mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal yang tidak terikat lagi oleh objek-objek yang bersifat konkret. Perilaku kognitif yang tampak
B.Implikasi Teori-Teori Belajar Dalam Pendidikan
Penting bagi seorang pendidik untuk menerapkan teori belajar yang telah ia kuasai. Sedikitnya ada 2 yang mungkin terjadi jika pada diri seorang guru mampu menerapkan teori belajar yang diyakininya dalam kognisi nyata. Pertama, teori yang dikenalnya itu cenderung meningkat baik secara kualitatif maupun kuantitatif sehingga pada suatu saat ia akan kaya dengan khazanah teori belajar dan pembelajaran. Kedua pembelajaran akan optimal baik dilihat dari sudut pandang pengembangan peserta didik maupun aktualisasi kemampuan guru itu sendiri.
1. Implikasi Teori Belajar Behaviorisme dalam Pembelajaran
Proses pembelajaran berpegang teguh pada prinsip dan pemahaman aliran behaviorisme menekankan pada pentingnya keterampilan dan pengetahuan akademik maupun perilaku sosial sebagai hasil belajar.Pendekatan akademik yang lebih menekankan pada penguasaan secara tuntas terhadap apa saja yang dipelajari menjadi langkah penting dalam pencapaian teori behaviorisme ini. Tujuan pendidikan bersifat eksternal, artinya guru yang mengendalikan proses pembelajaran tanpa campur tangan peseta didik
Hasil belajar akan lebih bermakna jika prosesnya menyenangkan peserta didik dan terjadi penguatan (reinforcement). Misalnya, peserta didik menjawab benar maka diberi penguatan oleh guru/pendidik dengan mengucapkan “Jawabanmu bagus” atau “tepat” dan sebagainya. Menurut William C. Crain (1980-9) guru, orang tua, dan pendidik harus memberikan penguatan terutama yang bersifat psikologis dan menghindari penguatan yang lebih bersifat kebendaan.Sedangkan penghargaan (rewards) seharusnya diberikan hanya kepada perilaku yang masuk akal (reasonable) dan tidak bersifat memanjakan. Hindari hukuman (punishments) yang bersifat fisik.
Kurikulum yang berorientasi pada aliran behaviorisme harus sudah menggambarkan perincian tentang apa-apa yang hendak disajikan kepada peserta didik. Kurikulum harus dikristalisasikan dalam satuan acara pembelajaran (SAP) yang dirancang sedemikian rupa sebelum proses pembelajaran dimulai.
2. Implikasi Teori Humanisme dalam Pendidikan
Pandangan kalangan humanisme tentang proses belajar mengimplikasikan perlunya penataan peran guru/tenaga kependidikan dan prioritas pendidikan Teori ini meyakini bahwa guru adalah fasilitator bukan sebagai pengajar belaka. Artinya, pengajar harus bisa memfasilitasi tumbuhnya motivasi belajar dalam diri peserta didik, bukannya berpusat pada proses pembelajaran, Peserta didik harus diberi kesempatan untuk mengeksplorasi dan mengembangkan kesadaran dirinya untuk perkembangan aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik agar peserta didik bisa lebih menguasai informasi atau pengetahuan.
Guru/pendidik berperan sebagai fasilitator, bukan berarti ia harus pasif. akan tetapi justru guru/pendidik harus berperan aktif dalam suatu proses pembelajaran. Menurut Rogers seorang pendidik harus berperan aktif dalam hal-hal berikut ini.
1. Membantu menciptakan iklim kelas yang kondusif dan sikap positif terhadap pembelajaran.
2. Membantu peserta didik mengklasifikasikan tujuan belajar dengan cara memberikan kesempatan kepada peserta didik secara bebas menyatakan apa yang ingin mereka pelajari.
3. Membantu peserta didik mengembangkan dorongan dengan tujuannya sebagai kekuatan pembelajaran.
4. Menyediakan sumber-sumber belajar.
Belajar bermakna terjadi jika kebutuhan peserta didik disertai motivasi instrinsik dapat terpenuhi.Selain itu kurikulum juga tidak bersifat kaku. Guru harus arif dan paham betul atas keunikan peserta didik. Rogers menyarankan agar terciptanya iklim kelas yang memungkinkan terjadinya belajar bermakna perlu dilakukan hal-hal berikut:
1. terimalah peserta didik apa adanya:
2. kenali dan bina minat peserta didik melalui penemuannya terhadap diri sendiri:
3. usahakan sumber belajar yang mungkin dapat diperoleh peserta didik untuk dapat memilih dan menggunakannya
4. gunakan pendekatan
5. tekankan pentingnya penilaian diri sendiri dan biarkan peserta didik mengambil tanggung jawab untuk memenuhi tujuan belajarnya.
3. Implikasi Teori Kognitif dalam Pendidikan
Dari aliran psikologi kognitif, teori Piaget tampak lebih banyak digunakan dalam praktik pendidikan atau proses pembelajar meskipun teori ini bukanlah teori mengajar. Dalam teori Piaget peserta didik harus dibimbing agar aktif menemukan sesuatu yang dipelajarinya, tidak harus berpusat pada guru.Diusahakan agar materi yang diajarkan harus dapat menarik minat anak dan menantang sehingga mereka merasa senang dan akhirnya terlibat dalam proses pembelajaran.
Dalam teorinya, Piaget mengemukakan bahwa kemampuan berfikir anak dengan orang dewasa itu berbeda. Artinya urutan bahan pembelajaran harus menjadi perhatian utama. Anak akan sulit memahami bahan pelajaran jika urutan bahan pelajaran itu loncat-loncat. Bagi anak SD pengoperasian suatu penjumlahan harus menggunakan benda-benda nyata, terutama di kelas-kelas awal karena tahap perkembangan berpikir mereka baru mencapai tahap operasi konkret.Contohnya, untuk menjelaskan operasi penjumlahan 4+2 lebih baik guru memperagakannya dengan memperlihatkan 4 benda dan 2 benda. Jadi, caranya: “Empat buah jeruk ini ditambah dengan dua buah jeruk yang itu, berapa jumlahnya anak-anak?”
Tahap kemampuan berpikir sensori motorik mengimplikasikan bahwa bagi proses belajar harus mencapai kerangka dasar kemampuan berbahasa, hubungan tentang objek, kontrol skema, kerangka berpikir, pembentukan pengertian, dan pengenalan hubungan sebab akibat.
Metode ini selain tidak mengubur sifat egosentris anak juga merupakan dunia anak, buktinya anak senang bermain dan ia akrab dengan bermain.
Tahap kemapuan berpikir formal mengimplikasikan bahwa anak melalui proses belajar mengajar harus mampu menemukan sendiri, memecahkan masalah sendiri, bahkan berpikir menurut konsep sendiri.
Ini berarti bahwa guru harus menciptakan suatu situasi yang memungkinkan anak berinteraksi dengan yang lainnya dan juga guru.
4. Implikasi Teori Belajar Konsep dalam Pembelajaran
Ada 2 langkah dalam pembelajaran yang berbasis teori belajar konsep yaitu:
1. Penentuan Konsep-konsep yang akan diajarkan
Ada dua hal yang harus kita pertimbangkan ketika akan memberikan pembelajaran konsep. Pertama, perkembangan kognitif atau usia peserta didik yang kerap kali membuat biasnya pembelajaran konsep. Artinya, konsep-konsep yang diajarkan harus sesuai dengan perkembangan kognitif atau usia peserta didik atau tergantung pada pencapaian konsep mana yang akan diajarkan kepada peserta.
2. Perencanaan Pembelajaran Konsep
Jika anda sudah memilih konsep-konsep yang akan diajarkan maka selanjutnya anda perlu menentukan strategi-strategi pembelajaran. Ada 2 langkah yang perlu dilaksanakan dalam rencana pembelajaran konsep, yaitu berikut ini.
a. Penentuan tingkat pencapaian konsep
Penentuan tingkat pencapaian konsep perlu didasarkan kepada tuntutan kurikulum, perkembangan peserta didik, dan tingkat kepentingan konsep.
b. Analisi konsep
5.Implikasi Teori Belajar Bermakna Ausubel dalam Pembelajaran
Jika kita bandingkan antara Ausubel dengan teoriwan lainnya, mungkin kita akan tertarik dengan teorinya dan cara Ausubel berteori. Ini dapat terjadi pada diri kita karena ada satu hal yang menonjol dari Ausubel dalam menyusun teorinya, yaitu kemampuannya mengoperasionalkan teori tersebut dalam bentuk nyata dalam suatu proses pembelajaran. Inilah sisi yang menarik dari Ausubel sehingga banyak kalangan yang peduli terhadap teori belajarnya.
Dalam penerapan teorinya pada proses pembelajaran. Ausubel mengajukan beberapa implikasi, yaitu advance organizer, diferensiasi progresif, belajar superordinat, dan penyesuaian intergratif. Dalam mendukung pendapat Ausubel tersebut, Novak (1985) mengajukan penerapan peta konsep dalam suatu proses pembelajaran dengan tujuan agar lebih bermakna. Untuk mendalami beberapa implikasi teori belajar Ausubel tersebut, mari kita pelajari bagian-bagian pemaparan berikut ini.
1. Advance Organizer
Advence organizer diartikan sebagai pengatur awal. Intinya merupakan proses penggalian pengalaman masa lalu yang sudah ada dalam struktur kognitf peserta didik yang relevan dengan materi pembelajaran yang akan disampaikan.Oleh karena itu, advance organizer tersebut suka dianggap semacam pertolongan mental, yang disampaikan sebelum materi pokok pembelajaran dibahas.
2. Diferensi Progresif
Kalau kita cermati secara jeli, dalam konsep belajar bermakna menurut Ausubel dipandang perlu terjadinya pengembangan dan elaborasi konsep-konsep yang tersubsumsi. Caranya dengan mengembangkan konsep-konsep yang lebih umum terlebih dahulu, selanjutnya diberikan konsep-konsep yang lebih mendetail dan khusus sampai kepada contoh-contoh. Dengan demikian, konsep-konsep tersebut dikembangkan dari umum ke khusus. Penyusunan konsep seperti ini. disebutdengan istilah diferensiasi progresif. Oleh sebab itu, suatu konsep yang diajarkan perlu disusun secara hierarkis.
3. Belajar Superordinat
Tampaknya belajar superordinat jarang terjadi di sekolah, sebab kebanyakan guru dan buku sekarang menyajikan konsep-konsep yang lebih inklusif, tetapi ada kalanya penyajian seperti itu mengalami masalah. Kalau begitu maka penting juga dipahami apa yang disebut belajar superordinat.
4. Penyesuaian Integratif
Menurut Ausubel untuk mengatasi atau mengurangi pertentangan kognitif seperti itulah pentingnya penggunaan prinsip-prinsip penyesuaian intergratif yang sering disebut dengan istilah rekonsiliasi integratif.
Ausubel berpendapat bahwa suatu pembelajaran yang bermakna tidak harus selalu terjadi secara diferensiasi progresif, tetapi harus terjadi upaya penggerakan kerangka hierarkis konseptual ke atas dan ke bawah. Artinya perlu diperlihatkan keterkaitan antara konsep-konsep umum dengan konsep-konsep khusus. Selain itu perlu jelas pula konteks dan rentetan penggunaan kata yang telah melebar maknanya atau kasus makna dwifungsi dan sebagainya.
.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
• Proses belajar terjadi dengan adanya tiga komponen pokok yaitu stimulus, respons, dan akibat. Stimulus adalah sesuatu yang datang dari lingkungan yang dapat membangkitkan respons individu. Respons menimbulkan perilaku jawaban atas stimulus. Sedangkan akibat adalah sesuatu yang terjadi setelah individu merespons baik yang bersifat positif ataupun yang negatif. Teori belajar Humanisme memandang bahwa perilaku manusia ditentukan oleh faktor internal dirinya dan bukan oleh kondisi lingkungan ataupun pengetahuan.
• Konsep adalah suatu abstraksi yang mewakili suatu kelas objek-objek kejadian-kejadian, kegiatan-kegiatan atau hubungan yang mempunyai atribut-atribut yang sama. Pandangan kalangan humanisme tentang proses belajar mengimplikasikan perlunya penataan peran guru/tenaga kependidikan dan prioritas pendidikan. Menurut pandangan ini guru/tenaga kependidikan berperan sebagai fasilitator daripada sebagai pengajar belaka.
• Sedikitnya ada empat aplikasi teori belajar yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran. Pertama, advance organizer dan entry behavior pengetahuan siap. Kedua diferensiasi progesif yang menentukan proses pembelajaran yang berlangsung dari umum ke khusus. Ketiga, superordinat yang merupakan pengenalan terhadap konsep-konsep yang telah dipelajari sebelumnya sebagai unsur-unsur dari suatu konsep yang lebih luas. Keempat, penyesuaian interaktif yang merupakan upaya untuk mengatasi dan mengurangi terjadinya pertentangan kognitif dalam proses pembelajaran.
3.2 Saran
• Guru/tenaga kependidikan sebaiknya bukan lagi sebagai pusat proses
• pembelajaran, tetapi yang terpenting adalah memfasilitasi tumbuhnya
• motivasi belajar secara intrinsik pada diri peserta didik. Kebutuhan peserta didik harus menjadi bahan pertimbangan yang akandisampaikan. Selain dapat memotivasi peserta didiknya, seorang guru/pendidik harus memiliki sikap empati, terbuka, jelas dalam menyatakan sesuatu. bertanggung jawab, berpenampilan apa adanya, dan tulus dalam memberikan pelayanan pendidikan bagi peserta didiknya.
DAFTAR PUSTAKA
https://akupintar.id/info-pintar/-/blogs/macam-macam-teori-belajar-dan pembelajaran-yang-harus-guru-tahu
https://www.scribd.com/doc/99891336/Makalah-Kelompok-Teori-Belajar-Dan-Implikasinya-Dalam-Pembelajaran